“Seharusnya jalan yang sudah putus ini ada rambu-rambunya, ini bisa membunuh orang. Syukur saja kami tidak melaju dengan kecepatan tinggi, bisa-bisa nyawa kami melayang,” ujar Syafruddin Warga Danau Sipin, Kota Jambi yang hendak ke Solok Selatan, Minggu (4/2).
Dia terpaksa memutar balik dan mencari jalan kebun sawit yang bisa dilewati menuju Sangir Balai Janggo. Kalau dari arah Dharmasraya atau dari arah Simpang Kaco Solsel lokasi jalan putus ini di turunan, kan sangat membahayakan nyawa pengendara atau yang ada dalam kendaraan tersebut.
“Ini (jalan, red) dibiarkan saja, kan bisa-bisa kendaraan terjatuh ke sungai dan bisa berisiko meregang nyawa,” kesalnya. Pasalnya, sejak putus akibat diterjang sungai pada malam tahun baru 2024 hingga kini belum diperbaiki.
Masih terlihat kondisinya sudah terbelah sekitar 7 meter. Dari arah Simpang Kaco Sungai Sungkai atau dari Dharmasraya, letak jalan putus tersebut di penurunan tajam. Maka pengendara harus berhati-hati.
Walaupun pihak Balai Prasarana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Sumbar dan pihak Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Pertanahan (PUTRP) Solok Selatan sudah mengetahuinya, tapi belum ada inisiatif untuk memberikan rambu-rambu terhadqp jalan yang sudah beraspal hot mix dengan anggaran dana Inpres Rp31 miliar di tahun 2023 lalu.
“Saya selalu Pemerintahan Kecamatan Sangir Balai Janggo sudah menginformasikan jalan putus ini. Baik ke PUTR Solsel, dan kata Pihak PUTR juga sudah menyampaikan ke BPJN Wilayah Sumbar,” tutur Muslim Camat Sangir Balai Janggo.
Diakui Muslim memang banyak masyarakat yang ingin mencoba aspal tersebut, tapi sejak tahun baru 2024 ini sebagian sudah tau kalau kondisinya sudah putus.
“Jalan ini sempat viral dengan alamnya yang indah di sepanjang jalan. Banyak masyarakat datang dengan keluarga untuk swafoto, namun sekarang sudah tidak dilalui lagi oleh masyarakat kecuali yang tidak mengetahuinya. Memang belum ada rambu-rambu peringatan kalau jalan sudah putus,” bebernya.
Terpisah, Kepala Dinas PUTR Solok Selatan Indra Zuardi mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi jalan putus tersebut ke BPJN Sumbar. Ia juga membenarkan kalau memang belum ada pemasangan rambu-rambu peringatan dari dua arah.
Ia menambahkan, yang mengerjakan jalan tersebut adalah dana pusat, setelah dibuka langsung pengerasan dan pengaspalan dengan anggaran Rp31 miliar, pihak kontraktor berjanji akan memperbaikinya dan mereka siap bertanggungjawab.
“Ini dampak bencana alam. Jembatan kecil, air sungai besar. Sehingga menyebabkan jembatan jalan tembus Solsel-Dharmasraya ini putus,” jelasnya.
Indra memaparkan, dengan kondisi jalan baru dan kontur tanah menjadi penyebab jalan itu mudah ambruk. Hal itu juga dampak dari kurangnya kepadatan tanah atau sewaktu melakukan pengerasan, hal ini salah satu faktor jalan ada yang rusak seperti aspalnya terban dan jembatan putus tak kuat karena dilalui air sungai dengan debit cukup besar.
“Kalau soal adanya asal yang ambruk menjelang jembatan putus ini, sudah kita pantau ke lokasi. Mungkin saja karena faktor kepadatannya masih kurang,” tegasnya.
Pihak Dinas PUTRP Solok Selatan berjanji akan memberikan plang informasi atau rambu-rambu kalau untuk sementara jalan tembus Solsel-Dharmasraya ini belum bisa dilewati karena putus.
“Saya sudah koordinasi dengan Bidang Bina Marga (BM) di Dinas Kami untuk segera memasang rambu-rambu jalan putus ini, segera akan kami lakukan,” terangnya. (tno) Editor : Novitri Selvia