Jalur ini disebut lebih cepat dan aman bagi wisatawan yang ingin menaklukkan gunung tertinggi di Sumatera tersebut.
Bupati Solok Selatan, Khairunas, mengatakan pembukaan jalur pendakian ini menjadi peluang besar bagi daerah untuk mengembangkan ekowisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui pengembangan jalur pendakian ini, kami berharap ekonomi masyarakat dapat meningkat. Kami juga ingin mengedukasi warga agar ikut menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang,” ujar Khairunas, Selasa (23/9/2025).
Pembangunan jalur dilakukan pada 2025 melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dengan dukungan TNI dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Infrastruktur diperkuat dengan pengerasan jalan sepanjang 2.328 meter serta pembukaan jalur wisata baru yang menghubungkan titik awal pendakian.
Waktu tempuh yang sebelumnya empat hari tiga malam kini lebih singkat menjadi tiga hari dua malam. Dengan kondisi fisik optimal, jalur bisa dituntaskan hanya dalam dua hari satu malam.
Selain akses yang lebih mudah, jalur pendakian ini menyajikan panorama hutan lebat, Air Terjun Blangir di KM 2,9, serta keragaman flora dan fauna alami.
Kepala Balai Besar TNKS, Hadinata, menyebut jalur ini menawarkan pengalaman unik, termasuk pengamatan burung endemik seperti Paok Schneider dan Cucak Kerinci.
“Jalur pendakian ini berada dalam Zona Pemanfaatan TNKS, yang artinya kami sudah memastikan fungsi kawasan tetap terjaga untuk tujuan wisata alam,” tegas Hadinata.
Dengan ketinggian Gunung Kerinci mencapai 3.805 meter di atas permukaan laut, jalur ini dikategorikan berat (Grade IV), sehingga pendaki diwajibkan didampingi pemandu profesional.
Hadinata menambahkan, seluruh aktivitas pembangunan jalur dipantau ketat agar tidak merusak ekosistem.
“Peningkatan jalan wisata ini selalu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.
Pembukaan jalur baru Gunung Kerinci via Solok Selatan diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus tetap menjaga kelestarian alam.(*)
Editor : Hendra Efison