PADEK.JAWAPOS.COM-Keberadaan komunitas seni musik di daerah kian menghadapi tantangan di tengah arus modernisasi. Kondisi ini dialami Komunitas Seni Balabo di Kabupaten Solok Selatan.
Komunitas yang didirikan pada 2015 oleh Nico Septria, 35 tersebut kini menghadapi keterbatasan ruang berkegiatan dan minim dukungan, sehingga keberlangsungannya terancam.
Nico Septria menyampaikan bahwa pelaku seni memiliki peran penting dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan nilai budaya dan kreativitas masyarakat.
Namun, realitas yang dihadapi para penggiat seni di daerah menunjukkan keterbatasan perhatian dan dukungan.
“Daerah sebenarnya sangat membutuhkan pelaku seni yang aktif agar bisa terus berkembang. Namun saat ini, kami merasa sangat sulit untuk tetap bergiat karena keterbatasan wadah dan dukungan yang nyata,” ujar Nico, Senin sore (22/12).
Sejak berdiri hampir satu dekade lalu, Balabo dibentuk sebagai ruang edukasi seni.
Komunitas ini bertujuan menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki minat dan bakat seni, khususnya seni musik dan budaya, tetapi tidak memiliki sarana untuk mengembangkannya.
Balabo membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin belajar dan berkarya. Sasaran utama komunitas ini adalah generasi muda dan penggemar seni.
Nico menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya daerah. Tanpa adanya ruang yang memadai, identitas seni lokal dikhawatirkan akan semakin tergerus.
Untuk mempertahankan aktivitasnya, Balabo rutin mengadakan diskusi internal antaranggota. Selain itu, komunitas ini juga menggelar diskusi karya yang terbuka bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga agar seni tradisional tetap dikenal dan tidak terasing di daerah asalnya.
Menurut Nico, keberadaan Balabo bertujuan agar seni tetap hidup di tengah masyarakat. Namun, keterbatasan fasilitas dan dukungan operasional menjadi kendala utama.
Selama sembilan tahun berjalan, komunitas ini belum mendapatkan bantuan rutin, sehingga aktivitas sepenuhnya bergantung pada kemampuan internal.
Hingga kini, seluruh pendanaan kegiatan Balabo berasal dari iuran sukarela para anggotanya. Kondisi ini menunjukkan komitmen anggota dalam menjaga keberlangsungan komunitas, sekaligus mencerminkan keterbatasan dukungan yang diterima.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Balabo telah menghasilkan dua karya kolaborasi yang mengangkat budaya khas Solok Selatan. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya melalui seni.
Nico berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait, baik berupa pendanaan maupun fasilitas, agar aktivitas seni di daerah dapat terus berjalan dan berkembang. (cr2)
Editor : Novitri Selvia