Kami meninggalkan kota Bukittinggi sekitar pukul 12 malam. Teman saya Pile tampaknya lelah juga. Maklum, sebagai seorang cameramen, Pile pasti orang yang paling lelah di antara kami. Pile duduk di depan. Selama mobil berjalan, tampak mata Pile sudah terakuk-akuk.
Sementara, peri Tonggeng, sibuk merokok. Peri terkenal dengan insan rokok putus sambung. Kalau pabrik rokok ditutup, orang pertama yang akan gila, mungkin kawan kami yang satu ini. Peri Tonggeng.
T
ak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu di tengah jalan. Selepas dari Padangluar, kami masih hepi-hepi saja. Masih bercerita.Pile menanggapinya dengan tidak fokus.Alias mengantuk-ngantuk. Pertanyaan, ia jawab singkat-singkat saja.
Cuma Peri Tonggeng yang agak bersemangat bercerita. Anak yang satu ini, asal ada rokok, aman dia itu. Kalau rokoknya putus, ia bentuk orang bingung. Mau ke gila dia rasa.
Matanya mulai sayu.Mulai bentuk orang kelelahan.Tampaknya, merokok bagi Peri adalah sebuah energi. Buktinya, kalau ia sudah mendapat rokok, matanya terbudur. Ceritanya banyak.Apalagi kalau disuguhi dengan segelas kopi. Menjadi-jadi otanya.
Saya memang agak merasa heran juga sedikit.Kok jarang sekali kami bertemu truk atau mobil melintas di jalan. Mengapa jalan mendadak lengang dan sepi.Sementara, hujan-hujan kecil terus merintik.
Pas ketika memasuki kawasan Batagak, persis jalan sebelum SPBU, dekat jalan yang diapit dua bukit itu, perasaan saya mulai tidak enak. Mobil saat itu kecepatannya hanya lari-lari 40 km. Ketika itulah dalam jarak pandang 100 meter, saya melihat sesosok tubuh di jalan terseok-seok. Kecepatan mobil saya perlambat. Mungkin, larinya menjadi 30 Km/jam.
Saya culik Pile yang duduk di samping saya.
“Le, ka mancaliak jin ndak Le?”
Pile nan tadi mulai terakuk-akuk terkejut. Kepada Peri nan duduk di belakang, juga saya kabari.
“Per, ka mancaliak hantu ndak?”
Peri terkejut pula. Seolah-olah, muka kami terdongak ke depan dalam pandangan yang pokus dan diam yang serentak.
Makin lama makin jelas sosok yang berjalan itu. Karena, sorot lampu saya beri lampu jalan. Biar jelas. Biar makin tampak.Biar makin terang. Jelas sekali oleh kami bertiga.
Bahwa sosok yang berjalan itu adalah sosok orang tanpa kepala. Saya masih bisa mengingat sampai kini. Ia mengenakan celana jin lusuh. Bajunya baju dingin warna lama, yakni merah, kuning dan biru. Ia berjalan terseok-seok.
Sementara pintu kaca mobil di samping Pile terbuka dengan lebar. Karena begitulah kebiasaan kami di atas mobil selama kami merokok. Berjalannya terseok-seok. Makin dekat, makin jelas. Makin…
Ah, makin jelas bahwa lelaki yang berjalan terseok-seok di tepi jalan di tengah malam berhujan itu, 100 persen tak berkepala!
Ketika mobil kami persis berselisih dengannya, saat itu Pile sempat menoleh kea rah lelaki tak berkepala itu, kala itulah beberapa ayat Alquran melompat dari mulut Pile.
Saya terkejut bukan karena melihat lelaki tak berkepala itu.Saya lebih terkejut ketika ayat-ayat panjang itu dengan fasih diucapkan Pile.
“Ondeh, panjang ayat ko Le?” spontan saya berkata karena ayat Pile baru berhenti ketika kami hampir masuk nagari Panyalaian.
“Awak lulusan Gontor,Bang !” Itulah, pertama kali saya tahu, bahwa Pile itu adalah lulusan Gontor.
Sementara, bagaimana dengan Peri Tonggeng? Saya melihat, sejak tadi Peri diam sediam-diamnya. Mukanya pucat pasi.
“Bang, saya melihat orang-orang tanpa kepala bergelantungan di atas beberapa truk yang lewat Bang. Takuik wak Bang…,” ujar Peri Tonggeng yang sebelumnya kalau bercerita soal hal ihwal yang berbau mistis, mulutnya namuh berbusa-busa berkisah.
Bentuk orang bagak dengan hantu dia kalau bercerita. Kini apa juga lagi, begitu bertemu dengan hantu yang sebenarnya, ia meriang. Sampai di Padang, Peri Tonggeng bentuk orang kerasukan. Pandangannya kosong. Mulutnya menganga. Begitu turun dari mobil, saya berbisik ke Pile: “Simbur dia Le”.
Pile bergegas ke kamar mandi. Ia ambil air segayung. Peri nan sedang duduk termenung di beranda rumah, langsung disembur Pile dengan segayung air. Ia tergagau!
Hahahahaha
Kami tertawa! (*) Editor : Novitri Selvia