Sudirman, salah seorang peternak mengatakan, sejak tiga hari lalu dia dan peternak lainnya mulai kesulitan mendapatkan pakan ternak yang bersih. “ Rumput yang ada sudah tertutup abu,” ujarnya kemarin (8/2).
Senada Enalis, peternak di Jorong Padang Laweh Baruah mengatakan, jika sudah tiga hari terakhir rumput yang dipotong terpaksa dicuci terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak.
“Jika tidak tentu saja akan menimbulkan penyakit bagi ternak, seperti batuk. Makanya harus dicuci dahulu,” ujarnya saat dijumpai tengah mencuci rumput.
Untuk mengurangi efek abu vulaknik, selain mencuci rumput untuk pakan, ternak juga harus banyak dikasih minum. “Makanya air minum harus selalu tersedia di kulak-kulak (tempat penampung makan) ternak, jadi mereka bisa minum sendiri saat makan,” sebutnya.
Agar asupan makanan ternak terus terjaga, petani juga harus mencari solusi. Diantaranya memberikan makanan pengganti seperti pohon pisang untuk sementara waktu.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Nagari Padanglaweh, terdapat lebih kurang 350 peternak di nagari setempat. Mereka berdaa di empat jorong. Pada umumnya memelihara sapi dan kambing.
Beternak sapi bagi warga di kenagarian tersebut sudah menjadi tradisi untuk investasi. Berdasarkan catatan pihak nagari juga, penduduk Padanglaweh terdata sebanyak 1.800 jiwa. Dari jumlah itu, 90 persen diantaranya sebagai petani dan peternak.
“Satu peternak ada yang memelihara 3-5 ekor sapi bahkan lebih. Kita perkirakan lebih kurang ada seribu ekor sapi termasuk kambing yang dipelihara. Dan sejak dihujani abu pada Senin lalu, para peternak kita inilah yang kewalahan mencari pakan,” terang Wali Nagari Padanglaweh Febri Dt Barah Bangso.
Untuk membantu mengatasi persoalan kesulitan pakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten melalui dinas. “Yang jelas kita akan input data dahulu,” katanya.
Selain sektor peternakan, abu vulkanik yang mengguyur juga berimbas pada tanaman warga di Padanglaweh. Terutama tanaman palwija seperti cabe, bawang, dan lainnya. Bahkan, beberapa petani terpaksa harus panen awal agar tidak mengalami kerugian total.
“Harusnya masa panen sebulan lagi. Namun sekarang terpaksa harus panen. Kalau tidak nanti akan mati semua dan tentunya akan mengalami kerugian total,” ujar Darlis, salah seorang petani bawang yang dijumpai di ladangnya.
Dari pada rugi total, sebutnya, lebih baik dilakukan panen awal. Tentunya dengan resiko bawang yang dipanen lebih kecil dan harga yang tidak sesuai harapan. “Mau bagaimana lagi, karena memang keadaan yang memaksa untuk begini,” tukasnya. (stg) Editor : Novitri Selvia