Peretasan ini menyebabkan nomor telepon hotel yang tertera di akun Google Bisnis diganti dengan nomor telepon milik peretas, sehingga konsumen menjadi korban penipuan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat, Rina Pangeran, menjelaskan bahwa hingga saat ini, 56 hotel telah melaporkan insiden peretasan ini.
“Kami terus meminta para pemilik hotel untuk melaporkan kondisi terkini, sehingga kami dapat mendata dengan lebih akurat jumlah hotel yang terkena dampaknya,” kata Rina kepada Padang Ekspres, Senin (12/8/2024).
Rina juga mengungkapkan modus operandi yang digunakan oleh para peretas. Mereka mengganti nomor WhatsApp yang terdaftar di akun Google Bisnis dengan nomor milik peretas.
Konsumen yang hendak memesan kamar hotel akan diarahkan untuk menghubungi nomor tersebut, dan kemudian diberikan nomor rekening untuk pembayaran yang ternyata milik peretas.
Akibatnya, konsumen yang telah melakukan pembayaran melalui nomor rekening tersebut ditolak saat check-in di hotel, karena pihak hotel belum menerima pembayaran tersebut.
“Dalam kasus ini, yang paling dirugikan adalah konsumen, karena mereka telah membayar ke pihak peretas. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat memesan hotel, terutama ketika melakukan transaksi online,” tambah Rina, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumbar.
Menurut Rina, Ketua Umum PHRI juga membenarkan adanya peretasan akun Google Bisnis yang menimpa sejumlah hotel di berbagai provinsi di Indonesia.
"Kasus ini segera dilaporkan ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri untuk ditindaklanjuti," katanya.
Rina juga menyebutkan bahwa BPP PHRI akan mengadakan konferensi pers di Jakarta pada sore hari ini untuk memberikan keterangan resmi terkait insiden ini.
Kasus peretasan ini menambah daftar panjang kejahatan siber di Indonesia, yang semakin meresahkan berbagai sektor, termasuk industri perhotelan.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha dan konsumen untuk selalu waspada dan meningkatkan keamanan data digital mereka.(mnf)
Editor : Heri Sugiarto