Proyek yang diinisiasi PT PLN Indonesia Power bersama investor Arab Saudi ini dinilai sebagai solusi inovatif untuk mendukung transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
“Dunia sedang menghadapi perubahan iklim, sehingga inovasi seperti PLTS terapung ini sangat dibutuhkan,” ujar Irman Gusman, Kamis (25/1).
PLTS Terapung Danau Singkarak, yang berlokasi di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, direncanakan memiliki kapasitas 50 megawatt AC (MW) atau setara dengan 76 MW Peak.
Proyek senilai ratusan miliar rupiah ini diharapkan menjadi gerbang transisi energi menuju EBT, sekaligus mendukung target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Ketua DPD RI periode 2009-2016 itu menyatakan bahwa pembangunan PLTS ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat Sumatera Barat, namun juga solusi global dalam menghadapi krisis iklim.
PLTS dianggap sebagai solusi krisis iklim karena beberapa alasan mendasar yang berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca, efisiensi energi, dan keberlanjutan lingkungan.
Untuk jangka panjang, PLTS dapat mengurangi biaya listrik karena energi matahari dan tidak tergantung pada fluktuasi harga bahan bakar fosil.
“Saat ini ada tiga tantangan dunia, dan salah satunya terkait krisis iklim. PLTS terapung ini merupakan solusi menjawab tantangan tersebut,” tegasnya.
Selain itu, katanya, PLTS menciptakan lapangan kerja baru dalam bidang manufaktur, instalasi, dan perawatan panel surya.
Terkait proyek ini sempat mendapat penolakan dari sebagian masyarakat, Irman menyarankan agar pemerintah daerah mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat untuk mencari solusi terbaik.
“Masalah penolakan ini harus dibicarakan bersama masyarakat. Gagasan energi terbarukan ini sangat bagus, tetapi perlu dipahami manfaatnya secara detail,” ujarnya.
Ia juga mendorong PLN Indonesia Power untuk menjelaskan manfaat PLTS bagi lingkungan dan memastikan janji-janji dari kesepakatan pembangunan PLTA Singkarak yang belum terealisasi segera dipenuhi.
“Pemerintah harus bisa menjelaskan betapa pentingnya proyek ini untuk kepentingan masyarakat, bahkan dunia,” tambah Irman.
Sejalan dengan Program Proyek Strategis Nasional (PSN), PLN Indonesia Power (PLN IP) terus mengakselerasi pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT di Indonesia.
Salah satunya adalah PLTS Terapung Singkarak, yang dikembangkan bersama mitra strategis ACWA Power dari Arab Saudi.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra mengatakan, proyek ini merupakan bagian dari Program Hijaunesia yang diluncurkan pada 2020 untuk mendukung target NZE 2060.
“Kami bergerak cepat dalam proses pembangunan PLTS Singkarak. Proyek ini juga merupakan penugasan dari pemerintah untuk membangun PLTS di seluruh Indonesia,” ujar Edwin dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/1).
Edwin menjelaskan bahwa PLTS Terapung Singkarak nantinya akan menjadi PLTS terbesar di Sumatera. Dengan kapasitas 50 MW, pembangkit ini dapat menyuplai listrik hijau untuk 40 ribu rumah dan terintegrasi ke sistem kelistrikan Sumatera bagian barat.
Proyek ini juga telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.
Edwin berharap dukungan penuh dari semua pihak, termasuk masyarakat agar proyek ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi lingkungan dan masyarakat.(*)
Editor : Heri Sugiarto