Kehadiran kantor ini disambut antusias oleh petani, tokoh masyarakat, dan pelaku agribisnis lokal karena dinilai mampu memperkuat ekosistem pertanian di tiga kecamatan sentra bawang merah: Lembang Jaya, Lembah Gumanti, dan Danau Kembar.
Kepala Kantor Pemasaran Bio Konversi Indonesia wilayah Sumbar, Riau, dan Jambi, Nofrins Napilus, mengatakan bahwa kehadiran kantor ini tidak hanya sebagai pusat penjualan, melainkan juga pusat edukasi dan layanan teknis bagi para petani.
"Kami ingin memastikan petani mendapatkan akses pupuk hayati terbaik yang telah terbukti meningkatkan hasil panen dan menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan," ujarnya.
Kecamatan Lembang Jaya, Lembah Gumanti, dan Danau Kembar diketahui sebagai lumbung bawang merah nasional.
Kabupaten Solok sendiri merupakan penghasil bawang merah terbesar kedua di Indonesia, dengan nilai ekonomi yang mencapai triliunan rupiah per tahun.
Kehadiran kantor Bio Konversi di Alahan Panjang diyakini akan memperkuat rantai distribusi produk-produk pertanian, terutama pupuk hayati, ke Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
Peresmian kantor yang berlokasi di Jalan Raya Lintas Padang - Muara Labuh ini turut dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, perwakilan petani, mitra distributor, dan tokoh-tokoh seperti Zukri Saad, mantan Direktur WALHI sekaligus motivator pertanian, serta Oni Yulfian, mantan Kepala Dinas Pariwisata Sumbar.
PT Bio Konversi Indonesia dikenal sebagai produsen pupuk hayati cair dan padat berbasis mikroorganisme lokal, dengan kualitas yang telah tersertifikasi internasional dari Control Union (Belanda), serta memiliki SNI dari LeSOS dan ISO 9001:2015.
Produk ini telah digunakan secara luas di 29 provinsi di Indonesia dan terbukti mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kelestarian tanah.
Menariknya, pada 28 April 2025 lalu, PT Bio Konversi Indonesia menandatangani kerja sama penjualan pupuk hayati cair untuk pasar global bersama perusahaan asal Norwegia, dalam seremoni yang turut didampingi mantan Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis.
Produk ini memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 99,91 persen yang menunjukkan potensi besar sebagai produk unggulan ekspor.
Langkah ekspansi Bio Konversi ke salah satu sentra pertanian Sumbar ini dinilai strategis dalam mendukung ketahanan pangan, meningkatkan hasil produksi hortikultura, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pertanian berkelanjutan.(*)
Editor : Heri Sugiarto