Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa tinggi kolom letusan teramati mencapai kurang lebih 500 meter di atas puncak gunung, atau sekitar 3391 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan pengamatan PVMBG, kolom abu yang menyembur dari kawah Marapi berwarna kelabu dengan intensitas tebal, bergerak ke arah utara.
Erupsi ini terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum sebesar 4.7 mm dan durasi mencapai 116 detik. Data seismik ini memberikan gambaran jelas mengenai kekuatan dan lama berlangsungnya letusan.
Menyusul erupsi ini, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting yang ditujukan kepada masyarakat di sekitar Gunung Marapi, termasuk para pendaki, pengunjung, dan wisatawan.
Pihak berwenang dengan tegas mengimbau agar tidak ada aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung, yaitu Kawah Verbeek.
Zona berbahaya ini sangat rawan terhadap lontaran material vulkanik dan potensi erupsi susulan yang sulit diprediksi.
Selain bahaya erupsi langsung, PVMBG juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, bantaran, dan aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lahar atau banjir lahar.
Risiko ini terutama meningkat saat musim hujan tiba, di mana material vulkanik yang telah menumpuk di lereng gunung dapat terbawa oleh aliran air dengan kekuatan besar.
Dalam hal terjadi hujan abu akibat erupsi, PVMBG menyarankan masyarakat untuk segera menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.
Langkah ini penting untuk menghindari gangguan pada saluran pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dapat disebabkan oleh partikel abu vulkanik yang terhirup.
Lebih lanjut, PVMBG menekankan pentingnya menjaga suasana yang kondusif di tengah masyarakat. Pihak berwenang mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi atau narasi bohong (hoaks) yang dapat menimbulkan kepanikan.
Masyarakat diharapkan untuk selalu mengikuti arahan resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat.
PVMBG juga meminta Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam untuk terus berkoordinasi secara intensif dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi di Bandung, atau dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi yang berlokasi di Jl. Prof. Hazairin No.168 Bukittinggi.
Koordinasi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat mengenai aktivitas Gunung Marapi, sehingga langkah-langkah mitigasi yang tepat dapat segera diambil.
Dengan adanya informasi yang jelas dan terpercaya dari sumber-sumber resmi, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan siap menghadapi potensi risiko bencana yang ditimbulkan oleh aktivitas Gunung Marapi.
Pemerintah daerah dan pihak terkait terus berupaya untuk memberikan informasi yang akurat dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan demi keselamatan masyarakat.(*)
Editor : Adetio Purtama