Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Viral: Hati Sapi Kurban di Pariaman Dibuang karena Cacing, Ini Penjelasan Petugas

ZikriNiati ZN • Jumat, 13 Juni 2025 | 05:05 WIB

Hati sapi bercacing dibuang pada saat penyembelihan hewan kurban beberapa waktu lalu.
Hati sapi bercacing dibuang pada saat penyembelihan hewan kurban beberapa waktu lalu.
PADEK.JAWAPOS.COM—Puluhan hati sapi terpaksa dibuang oleh panitia kurban di Kota Pariaman saat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, karena ditemukan cacing di dalam organ tersebut.

Hati sapi yang terinfeksi tidak dibagikan kepada masyarakat untuk menghindari potensi risiko kesehatan.

“Pada saat pelaksanaan kurban, tim kami yang berjumlah sekitar 70 orang turun langsung ke lapangan untuk memantau proses penyembelihan. Kami menemukan sekitar 60 kasus hati sapi yang terinfeksi cacing. Sesuai anjuran kami, hati yang terinfeksi langsung dibuang dan tidak dibagikan kepada peserta kurban atau masyarakat,” ujar Plt Sekretaris Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Marini Jamal, Kamis (12/6/2025).

Marini menjelaskan, meskipun cacing pada hati sapi dapat mati jika dimasak dengan benar, namun secara estetika keberadaan cacing dalam makanan sangat tidak layak konsumsi.

Selain itu, ada risiko kontaminasi silang saat pencucian hati yang terinfeksi, yang dapat menyebarkan cacing ke bagian daging lain atau permukaan peralatan masak.

Menurutnya, keberadaan cacing pada hati sapi biasanya disebabkan oleh kondisi peternakan yang kurang higienis dan pakan yang tidak layak.

“Idealnya, rumput yang menjadi pakan ternak dalam kondisi kering. Jika diberikan dalam keadaan basah, berisiko tinggi mengandung parasit seperti cacing,” jelas Marini.

Ia menyebut pihaknya selalu mengimbau peternak di Kota Pariaman untuk menjaga kehigienisan kandang dan pakan sapi. Namun demikian hal tersebut tidak bisa menjamin tidak adanya temuan hati sapi bercacing saat penyembelihan hewan kurban.

Sebab hewan kurban yang disembelih di Kota Pariaman tidak hanya berasal dari Kota Pariaman, namun dari sejumlah kabupaten dan kota lainnya di Sumbar. Untuk mencegah penyebaran penyakit parasit, pihaknya telah melakukan upaya pencegahan dengan membagikan obat cacing kepada hewan kurban.

Namun, keterbatasan anggaran membuat distribusi obat tidak merata. “Tahun ini jumlah hewan kurban mencapai 1.106 ekor, sementara obat yang tersedia hanya untuk 600 ekor. Karena keterbatasan anggaran, tidak semua hewan bisa diberikan obat,” ungkapnya.

Marini menegaskan tanggung jawab utama menjaga kesehatan hewan kurban ada pada peternak dan pedagang. Ia berharap peternak lebih memperhatikan kebersihan kandang dan memastikan ternak yang dijual dalam kondisi sehat.

“Menjual hewan kurban yang sehat adalah kewajiban peternak. Kami berharap mereka benar-benar menjaga kualitas dan kesehatan ternaknya,” tutup Marini. (*)

Editor : Eri Mardinal
#hati sapi #terinfeksi cacing #hewan kurban #Ini Penjelasan Petugas