Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Komunitas Seni Nan Tumpah, Hadirkan Seni Teater ke Ruang Kelas

Silvina Fadhilah • Sabtu, 5 Juli 2025 | 06:05 WIB

 

Pagelaran seni teater ”Nan Tumpah Masuk Sekolah” di SMAN 1 Lubuksikaping.
Pagelaran seni teater ”Nan Tumpah Masuk Sekolah” di SMAN 1 Lubuksikaping.
PADEK.JAWAPOS.COM—Komunitas Seni Nan Tumpah (KSN) kembali menggelar program Nan Tumpah Masuk Sekolah (NTMS) pada 19 Mei–3 Juni 2025.

Tahun ini menjadi lebih istimewa karena untuk pertama kalinya pertunjukan juga dilakukan secara daring bersama Sekolah Indonesia di Arab Saudi.

Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah, Fajri Cahniago mengatakan inisiatif ini pertama kali muncul dari kepedulian Komunitas Seni Nan Tumpah yang dulunya bernama Teater Nan Tumpah terhadap minimnya akses pelajar terhadap seni pertunjukan, khususnya teater.

Kala itu, program ini hanya menyasar tiga sekolah di Kota Padang, tempat beberapa anggota komunitas menjadi pengajar ekstrakurikuler. Namun, respons antusias dari siswa dan guru di ketiga sekolah tersebut membuat KSNT yakin program ini memiliki potensi jangka panjang.

Maka, sejak 2012, NTMS resmi dijadikan agenda tahunan dan dibuka melalui sistem panggilan terbuka open call untuk menjaring sekolah-sekolah baru.

”Ketika kami pertama kali datang ke sekolah, banyak siswa yang bahkan tidak tahu apa itu teater. Tapi setelah menonton pertunjukan dan ikut workshop, mereka mulai terbuka, mulai tertarik. Itu jadi motivasi kami untuk terus melanjutkan program ini,” ujar Fajry Chaniago.

Menurut Fajry, NTMS tidak hanya memperkenalkan seni teater, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa teater adalah bagian dari kehidupan sosial.

”Teater adalah ruang untuk berekspresi, untuk bicara tentang hal-hal yang dekat dengan mereka soal pertemanan, keluarga, lingkungan, bahkan ketidakadilan. Ini bukan sekadar panggung, tapi ruang dialog,” tambahnya.

Hingga kini, NTMS telah menjangkau 15 sekolah menengah di Sumatera Barat, meskipun sempat vakum selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 hingga 2022. 

Ia mengatakan kegiatan NTMS dirancang dalam dua bagian utama, pementasan teater dan diskusi atau pelatihan singkat. Siswa tidak hanya menonton, tapi juga diajak memahami bagaimana sebuah pertunjukan dibuat dari ide naskah, penokohan, hingga pemaknaan. Hal itu membuat pengalaman menonton menjadi lebih interaktif dan edukatif.

”Program ini berusaha menjembatani kesenjangan antara seni dan pendidikan. Masih banyak siswa yang belum pernah masuk gedung pertunjukan, belum pernah menonton teater. Dengan NTMS, kami yang datang ke mereka,” kata Fajry.

Melalui pendekatan langsung ini, KSNT berharap bisa membentuk basis penonton baru dari kalangan remaja. Teater di Sumatera Barat selama ini memang kerap dihadapkan pada tantangan rendahnya minat penonton, terutama dari generasi muda. Fajry percaya, membentuk penonton masa depan harus dimulai sejak bangku sekolah.

”Ini bukan hanya tentang tampil, tapi juga soal menumbuhkan ekosistem kesenian. Kalau remaja mulai terbiasa menonton teater, mereka juga akan belajar menghargai proses kreatif. Bisa jadi mereka nanti jadi penonton setia, atau bahkan jadi pelaku seni sendiri,” ujarnya.

Tak hanya berdampak bagi siswa, NTMS juga memberi ruang belajar bagi anggota KSNT yang mayoritas adalah mahasiswa atau seniman muda. Mereka terlibat langsung dalam produksi, interaksi dengan siswa, serta proses evaluasi bersama guru. Hal ini membuat program ini memiliki manfaat ganda, sebagai medium edukasi publik dan pengembangan kapasitas internal komunitas.

Fajry mengakui bahwa tantangan tetap ada, terutama soal pendanaan dan logistik menjangkau sekolah-sekolah di berbagai daerah. Namun, semangat dan konsistensi para anggota menjadi energi utama yang menjaga keberlangsungan program ini selama lebih dari satu dekade.

Dengan NTMS 2025, Komunitas Seni Nan Tumpah tidak hanya menghadirkan pertunjukan teater ke ruang-ruang kelas, tapi juga menyemai harapan akan tumbuhnya generasi muda yang lebih peka, reflektif, dan terbuka terhadap keberagaman ekspresi budaya.

”Kami ingin teater tidak lagi dipandang asing di sekolah. Ia harus hadir sebagai bagian dari pendidikan karakter, karena teater mengajarkan empati, keberanian berbicara, dan kerja sama. Tiga hal itu sangat dibutuhkan anak muda hari ini,” pungkas Fajry Chaniago. (*)

 

Editor : Eri Mardinal
#Nan Tumpah Masuk Sekolah #komunitas seni nan tumpah #seni teater