PADEK.JAWAPOS.COM-Jalanan dan lalu lintas di Sumbar masih tergolong besar mengancam nyawa masyarakat. Hal tersebut tak lepas dari lima pilar keselamatan lalu lintas yang belum terpenuhi. Memang, merujuk data Ditlantas Polda Sumbar tahun 2023 dan 2024, ada penurunan angka kecelakaan.
Dari 3.732 kejadian menjadi 3. 416. Begitu juga dengan korban meninggal dari 480 orang jadi 433. Luka ringan pun turun dari 5.471 menjadi 5.121. Tapi korban luka berat naik dari 229 menjadi 421.
Pengamat transportasi Yossyafra menyebut, masih terdapat beberapa kekurangan untuk mewujudkan keselamatan lalu lintas di Sumbar. Jika bicara tentang keselamatan lalu lintas, harus tahu dulu lima pilar keselamatan lalu lintas tersebut.
Yakni, manajemen keselamatan jalan (pengelolaan dan perencanaan keselamatan jalan), jalan yang berkeselamatan (infrastruktur jalan yang aman), kendaraan yang berkeselamatan (kendaraan yang memenuhi standar keselamatan), pengguna jalan yang berkeselamatan (perilaku pengemudi dan pengguna jalan lainnya), dan penanganan pascakecelakaan (respons darurat dan perawatan medis setelah terjadi kecelakaan).
“Untuk di Sumbar sendiri kelima pilar keselamatan lalu lintas masih belum terpenuhi. Sebagai contoh, masih banyak sarana jalan yang rusak dan belum masuk standar keselamatan,” ungkapnya kepada Padang Ekspres, Rabu (17/9).
“Apalagi soal kondisi kendaraannya yang beraktivitas di jalan-jalan wilayah Sumbar. Masih butuh penanganan serius, terutama kendaraan yang sudah tidak layak, namun masih ditemukan beroperasi,” sambungnya.
Contoh lainnya, masih banyak masyarakat yang tidak menaati pemakaian safety belt. “Meskipun itu contoh kecil, tapi hal itu masuk dalam penilaian keselamatan berlalu lintas,” jelas dia.
Akademisi dari Universitas Andalas ini mengatakan, untuk mewujudkan keselamatan berlalu lintas harus dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu.
Misalnya, memperbaiki infrastruktur jalan seperti penambahan marka jalan. Terutama pada jalan menanjak dan menikung, perbaikan kondisi jalan, hingga nantinya kesadaran masyarakat itu sendiri.
Untuk itu Yossyafra berharap Hari Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nasional yang diperingati pada hari ini tidak hanya menjadi ajang seremonial saja. Tapi bisa menjadi sosialisasi, edukasi, dan pengingat kepada semua pihak untuk menyukseskan keselamatan berlalu lintas.
Hal senada disampaikan pengamat transportasi lainnya Yosritzal. Ia mengingatkan pentingnya langkah nyata dalam mewujudkan keselamatan berlalu lintas. Momen tahunan ini harus jadi tonggak perubahan.
“Setiap nyawa yang melayang di jalan itu tragedi. Meskipun data kecelakaan turun, Sumbar tetap berada di posisi delapan nasional pada 2023. Artinya, pekerjaan rumah kita masih sangat banyak,” ujar akademisi dari Universitas Andalas itu.
Dia menegaskan, keselamatan lalu lintas tidak bisa diukur hanya lewat penurunan angka statistik. Satu kejadian kecelakaan fatal, sudah cukup untuk menunjukkan lemahnya sistem yang ada.
Sumbar, jelasnya, memiliki tantangan khas yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Kondisi geografis berbukit dengan banyak tikungan tajam, tanjakan dan turunan curam, serta cuaca ekstrem seperti kabut, hujan deras, dan potensi longsor, menuntut perhatian khusus.
Tapi sayangnya, pembangunan fasilitas mitigasi dan perbaikan geometrik jalan masih lambat. Sebagian besar jalan masih berada di bawah standar keselamatan karena keterbatasan lahan, pembiayaan, dan persoalan klasik penguasaan lahan.
Soroti Aspek Penegakan Hukum
Selain faktor teknis dan lingkungan, Yosritzal juga mengkritik aspek penegakan hukum. Ia menilai aparat seringkali lebih fokus pada administrasi daripada substansi. Salah satu contoh, penilangan pengendara yang lupa membawa SIM.
“Kalau pengemudi itu benar-benar bisa mengemudi dengan baik, paham aturan, dan punya SIM di rumah tapi lupa bawa, apa itu layak ditilang sekeras-kerasnya? Harusnya ada kebijakan yang adil dan edukatif,” tegasnya.
Lebih parah lagi, menurutnya, praktik pemberian SIM di Indonesia masih jauh dari ideal. Tes kelayakan mengemudi sering kali formalitas belaka dan tidak menggambarkan kesiapan mental, pengendalian emosi, dan sikap disiplin pengendara di lapangan.
Yosritzal juga menyoroti lemahnya sistem transportasi publik di Sumbar, yang akhirnya mendorong masyarakat, termasuk anak-anak di bawah umur, untuk menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama.
“Mau dilarang pun percuma kalau tak ada alternatif. Banyak anak di daerah terpencil yang terpaksa naik motor ke sekolah karena angkot pun tak sampai ke sana. Ini masalah nyata yang harus diselesaikan,” katanya.
Ia menyebut tanpa adanya penyediaan transportasi umum yang terjangkau, aman, dan nyaman, maka setiap upaya penertiban akan sulit diterima masyarakat. “Akhirnya, aturan bagus pun jadi sumber gejolak,” ujarnya.
Yosritzal menyebut, tidak ada satu solusi tunggal untuk menyelesaikan kompleksitas persoalan lalu lintas. Harus ada pendekatan sistemik dan terintegrasi yang mencakup regulasi kepemilikan kendaraan, peningkatan kualitas angkutan umum, pembenahan infrastruktur jalan, hingga pengetatan dalam penerbitan SIM.
“Kalau semua pihak hanya kerja di sektornya masing-masing tanpa sinergi, ya hasilnya akan begini-begini saja. Harus ada koordinasi lintas sektor,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya audit keselamatan jalan secara berkala, serta pengawasan ketat terhadap pembangunan jalan agar sesuai standar.
Kunci Keselamatan
Di sisi lain, pengamat transportasi dari Universitas Bung Hatta Fidel Miro mengatakan sebagian besar kecelakaan lalu lintas baik di Sumbar maupun di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia.
Mulai dari kelalaian, melanggar aturan, hingga mengabaikan rambu lalu lintas. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran perilaku pengendara masih perlu ditingkatkan.
Ia mengungkapkan, meskipun rambu-rambu dan fasilitas lalu lintas telah terpasang lengkap, faktor perilaku manusia tetap menjadi penentu utama keselamatan.
“Berapapun rambu-rambu dipasang, jika perilaku pengguna jalan melanggar, tetap akan menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Jadi faktor paling menentukan itu adalah perilaku berlalu lintas,” tegasnya.
Perubahan perilaku tidak tertib dapat dilakukan melalui pendidikan lalu lintas yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan faktor penyebab kecelakaan yang didominasi oleh manusia.
Diketahui, 90 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan faktor manusia. Selain itu, faktor kendaraan dan kondisi jalan juga memengaruhi, tetapi persentasenya kecil, yaitu sekitar 10 persen.
“Ada tiga komponen utama dalam lalu lintas, yaitu manusia, kendaraan, dan jalan. Faktor kendaraan berkisar 10 persen penyebab kecelakaan, sementara kondisi jalan umumnya sudah dilengkapi dengan marka yang memadai,” ucapnya.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan agar budaya tertib berlalu lintas bisa terbentuk sejak dini. (adt/cr1/eri)
Editor : Novitri Selvia