PADEK.JAWAPOS.COM-Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, Rabu (1/10) lalu, belum benar-benar tuntas. Kemarin, dugaan serupa mencuat di Kota Padangpanjang.
Sekretaris Kota (Sekko) Padangpanjang Sonny Budaya Putra mengatakan, hingga pukul 19.00 WIB kemarin, terdapat 27 orang siswa yang dibawa ke IGD sejak kemarin siang.
Para korban berasal dari SDN 9 Ekorlubuk dan SMP 3 Padangpanjang. “Alhamdulillah semuanya dalam kondisi stabil dan sudah diperbolehkan pulang,” ucapnya tadi malam.
Untuk mengetahui faktor penyebab kasus tersebut, terang dia, kemarin sore Pemko Padangpanjang sudah mengirim sampel makanan, sampel muntah dan sampel air minum isi ulang yang dikonsumsi para siswa ke laboratorium di Padang. Ini untuk dilakukan pemeriksaan dan pengecekan cemaran kimia dan bakteri.
“Semoga hasil pemeriksaan laboratrium tersebut bisa cepat keluar sehingga dapat diketahui faktor penyebab dan langkah-langkah penanggulangan yang lebih tepat,” ucapnya.
Salah seorang korban dugaan keracunan adalah Rizka. Dia mengaku, sudah merasakan gejala mual dan pusing sejak Senin (6/10) lalu.
Bercerita sembari terbaring didampingi orang tuanya, siswi yang duduk di kelas 7 SMPN 3 Padangpanjang itu mual dan pusing saat baru saja menikmati paket MBG sekira lima sendok.
“Paginya saat berangkat ke sekolah, rasanya tidak ada merasa pusing dan lainnya. Cuma saat makan di sekolah, tahu goreng MBG terasa asam,” tutur Nadine.
Hampir sama diungkapkan siswi Kelas 3 SDN 9 Ekorlubuk Nadine Azizah. Dia mengaku sudah dua hari belakangan merasa pusing dan mual.
Nadine mengatakan, MBG pada Senin (6/10) terasa aneh pada saus sambalnya. Sedangkan MBG hari ini (kemarin, red), mendapatkan tempe yang menghitam.
“Kemarin setelah makan saus sambal yang berasa asam, perut terasa tidak nyaman. Tadi pagi selesai makan tempe yang agak menghitam, makin mual dan pusing,” ucap Nadine.
Kepala SDN 09 Ekorlubuk Nurhayati yang dihubungi secara terpisah membenarkan kejadian itu. Sebanyak 7 orang siswanya mengalami muntah-muntah tidak lama setelah menyantap paket MBG.
“Menu MBG hari ini (kemarin, red) berupa nasi putih dengan lauknya telur dadar dan tempe datang sekitar pukul 08.30 WIB, lalu dibagikan kepada anak. Berselang tidak lama setelah makan, ada 7 anak yang muntah-muntah. Saya langsung menghubungi kepala dinas (Disdikbud), dan tidak beberapa lama tim Dinas Kesehatan (DKK) datang untuk membawa anak-anak tersebut ke RSUD,” tutur Nurhayati.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padangpanjang Muji Siswanto mengatakan, peserta didik yang dilarikan ke RSUD tersebut karena gangguan saluran pernafasan.
“Terkait adanya dugaan keracunan, saat ini harus menunggu hasil pemeriksaan labor di Padang,” jawab Muji saat ditemui di IGD rumah sakit tersebut.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD Kota Padangpanjang dr Desi Rahmawati belum bisa menyimpulkan penyebab sakitnya para pelajar dikarenakan MBG.
“Para pelajar masuk ke IGD dengan keluhan demam, sakit perut, dan bahkan ada juga ISPA. Kita belum bisa menentukan apakah ini ada hubungan dengan MBG atau tidak,” ujarnya.
Desi menyebutkan, para pelajar yang masuk IGD juga membawa penyakit penyerta dan gejala-gejala yang lain, seperti nyeri tenggorokan, demam, dan batuk.
“Jadi, sekali lagi kita pihak RSUD belum bisa menyimpulkan apakah ada kaitannya dengan MBG. Tergantung nanti hasil pemeriksaan sample makanan yang dimakan siswa,” pungkas Desi.
Terpisah, Wali Kota Padangpanjang Hendri Arnis langsung merespons kejadian dengan mengunjungi peserta didik yang tengah mendapatkan perawatan intensif setelah diduga keracunan makanan program MBG.
Dia menegaskan program MBG menjadi perhatian khusus, dan tidak ingin terdapat kelalaian dalam menyukseskan program nasional tersebut.
“Terkait kejadian hari ini (kemarin, red), kami tengah melakukan pengecekan dan pengujian terhadap menu yang disajikan. Selain itu, kami akan lebih meningkatkan pengawasan terhadap proses pengolahan menu MBG untuk mencegah risiko keracunan makanan,” tukasnya.
Antara Trauma dan Harapan
Sementara itu, dugaan keracunan MBG di Agam sempat ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh pemerintah daerah setempat. Seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis, baik di RSUD Lubukbasung maupun puskesmas terdekat.
Saat ini, seluruh pasien dinyatakan sembuh dan telah kembali ke rumah masing-masing. Pemerintah daerah tetap membuka posko pengaduan di Puskesmas Manggopoh dan menyiagakan tenaga kesehatan untuk memantau kondisi warga pascakejadian.
Meski kondisi para korban telah pulih, perasaan masyarakat masih campur aduk. Sebagian orang tua mengaku bersyukur anak mereka selamat, namun tidak sedikit pula yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap program MBG.
Darsusi, 38, warga Batuhampar, mengatakan kejadian itu membuat dirinya lebih waspada. “Kami bersyukur anak-anak sudah sehat, tapi tentu kami ingin pemerintah benar-benar mengecek setiap dapur. Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi,” ujarnya.
Reni Marlina, 35, orang tua siswa SDN 62 Batuhampar, menilai program MBG sebenarnya sangat membantu keluarga, namun perlu dijalankan lebih hati-hati.
“Programnya bagus karena meringankan beban orang tua, tapi harus dijaga kualitas dan keamanannya. Anak-anak kan yang makan, jadi jangan sampai ada yang lalai,” katanya.
Namun, sebagian orang tua lain mulai ragu untuk membiarkan anak mereka mengonsumsi makanan dari program tersebut. Yusril, 41, warga Nagari Manggopoh, mengaku masih trauma.
“Jujur saja, kami masih takut. Anak saya sempat muntah-muntah sampai dibawa ke puskesmas. Untuk sementara, saya bekali sendiri dari rumah dulu,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Rita Andani, 33, wali murid lainnya di Manggopoh. “Sekarang setiap kali dengar makanan bergizi gratis, kami langsung waswas. Mungkin niatnya baik, tapi kalau pelaksanaannya seperti kemarin, orang tua jadi kehilangan kepercayaan,” tuturnya.
Pulihkan Kepercayaan Publik
Pemerintah Kabupaten Agam kini berfokus pada langkah pemulihan kepercayaan publik. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam Rosva Deswira, menyebut seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus bergerak bersama untuk memastikan program MBG berjalan aman dan transparan.
“Untuk mengantisipasi menurunnya kepercayaan orang tua, semua OPD harus terlibat aktif. Kominfo bertugas menyosialisasikan program ini, Dinas Pendidikan turun langsung ke sekolah untuk edukasi, Dinas Kesehatan mengawasi kebersihan dapur, dan DKPP memastikan keamanan pangan segar,” tegasnya. (wrd/ptr)
Editor : Novitri Selvia