Aktivitas vulkanik terbaru ini tercatat menghasilkan kolom abu yang menjulang hingga mencapai kurang lebih 1.500 meter di atas puncak kawah.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Marapi, Ahmad Rifandi, mengonfirmasi letusan tersebut terjadi tepat pada pukul 12.18 WIB. Berdasarkan pengamatan visual, ketinggian kolom abu teramati mencapai sekitar 4.391 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak cenderung ke arah timur laut," ujar Ahmad Rifandi dalam keterangannya.
Data seismograf mencatat erupsi tersebut dengan amplitudo maksimum 24,9 mm dan durasi berlangsung selama 94 detik. Rekaman ini memperkuat indikasi bahwa Gunung Marapi sedang mengalami peningkatan aktivitas. Rekomendasi Keselamatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Menyikapi kejadian erupsi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting untuk menjaga keselamatan masyarakat.
Warga yang tinggal di sekitar gunung berapi tersebut, termasuk para pendaki, pengunjung, dan wisatawan, dilarang keras memasuki atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari Kawah Verbeek sebagai pusat aktivitas vulkanik Gunung Marapi.
Khusus bagi penduduk yang bermukim di sekitar lembah, bantaran, maupun aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi, PVMBG mengimbau agar senantiasa mewaspadai potensi bahaya lahar dingin atau banjir lahar. Ancaman ini terutama meningkat ketika memasuki musim penghujan.
Apabila terjadi hujan abu vulkanik di wilayah pemukiman, masyarakat sangat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut. Langkah pencegahan ini penting untuk menghindari gangguan pada saluran pernapasan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
PVMBG juga menghimbau seluruh pihak untuk menjaga kondusivitas di tengah masyarakat. Penyebaran narasi bohong atau informasi hoaks terkait aktivitas gunung berapi harus dihindari. Masyarakat diminta tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya dan senantiasa mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah setempat.
Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam diharapkan terus menjalin koordinasi intensif dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang bermarkas di Badan Geologi Bandung.
Koordinasi juga dapat dilakukan langsung dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi yang berlokasi di Jalan Prof. Hazairin Nomor 168, Bukittinggi, guna memperoleh informasi terkini dan akurat mengenai perkembangan aktivitas Gunung Marapi. (cc1)
Editor : Adetio Purtama