Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bulog Sumbar Salurkan 4.300 Ton Jagung untuk Stabilisasi Harga Pakan Ternak

Imam Syaputra • Rabu, 15 Oktober 2025 | 09:41 WIB

Sejumlah pekerja mengangkat jagung ke dalam gudang Bulog Sumbar.
Sejumlah pekerja mengangkat jagung ke dalam gudang Bulog Sumbar.
PADEK.JAWAPOS.COM—Perum Bulog Sumatera Barat (Sumbar) mulai melaksanakan program stabilisasi pasokan dan harga pangan jagung. Program ini merupakan langkah pemerintah untuk menjaga harga bahan baku pakan ternak agar tetap stabil dan terjangkau bagi para peternak di daerah.

Pimpinan Wilayah Bulog Sumbar, Darma Wijaya mengatakan, saat ini pihaknya telah mendapat penugasan dari pemerintah untuk menyalurkan sekitar 4.300 ton jagung kepada peternak penerima manfaat di Sumbar. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton jagung telah mulai didistribusikan sejak pekan ini.

“Program ini merupakan bagian dari fungsi stabilisasi pangan. Pemerintah memberikan instrumen kepada Bulog untuk menjaga agar tingkat harga pembentuk pakan ternak, khususnya jagung, tetap terjaga,” ujar Darma saat ditemui di Kantor Bulog Sumbar, Padang, Selasa (14/10).

Menurutnya, distribusi tahap awal difokuskan ke wilayah Payakumbuh yang menjadi sentra utama peternakan di Sumatera Barat. Selain itu, pasokan juga mulai bergerak ke daerah lain seperti Solok dan Sijunjung, yang memiliki kelompok peternak aktif dan membutuhkan pasokan jagung untuk keberlanjutan usaha mereka.

“Payakumbuh menjadi prioritas utama karena di sana banyak peternak unggas yang memasok kebutuhan telur dan daging ayam untuk berbagai daerah di Sumbar. Kita ingin suplai pakan mereka tidak terganggu,” jelasnya.

Darma menjelaskan, jagung yang disalurkan Bulog merupakan jagung pipilan kering dengan kadar air maksimal 14 persen, sesuai standar pakan ternak nasional. Harga tebusnya ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram, lebih rendah dari harga pasar. Harga tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi peternak sehingga harga telur dan daging di pasaran tetap stabil.

“Kalau jagung bisa kita jaga di harga sesuai ketetapan pemerintah, maka dampaknya akan berantai. Telur bisa dijaga, daging juga stabil, dan ujungnya inflasi bisa dikendalikan,” ujarnya.

Bulog Sumbar juga memastikan, penerima bantuan jagung ini telah terdata secara resmi oleh pemerintah melalui Bappenas dan kementerian teknis terkait. Data tersebut sudah disusun by name by address agar distribusi berjalan tepat sasaran.

“Kami hanya menyalurkan kepada nama-nama yang sudah ditetapkan pemerintah pusat. Datanya sudah lengkap dan disahkan,” kata Darma.

Darma menambahkan, jagung yang didistribusikan ini sebagian besar berasal dari Lampung, sementara untuk jagung lokal Sumbar masih diserap dalam jumlah kecil. Hingga saat ini, Bulog telah menyerap sekitar 50 ton jagung lokal dari sejumlah kabupaten/kota bekerja sama dengan aparat kepolisian dan kelompok tani.

“Kami juga bekerja sama dengan Polri dalam gerakan menanam dan memanen jagung. Kalau kadar airnya 18–20 persen, kami hargai Rp5.500 per kilogram, sedangkan kadar air 14 persen kami beli Rp6.400 per kilogram,” jelasnya.

Darma menilai, langkah pemerintah menyalurkan jagung melalui Bulog bukan hanya untuk membantu peternak, tapi juga menjadi instrumen cadangan pangan nasional. Dengan adanya stok jagung yang memadai, pemerintah memiliki ruang intervensi apabila terjadi kenaikan harga pakan atau bahan pangan di pasaran.

“Pemerintah harus punya cadangan. Jadi kalau terjadi gejolak harga, stok jagung ini bisa langsung digunakan untuk intervensi pasar,” katanya.

Ia juga menegaskan, program ini merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha di sektor peternakan. Dengan ketersediaan pakan yang terjangkau, para peternak dapat menjaga keberlanjutan usaha mereka dan memastikan ketersediaan pangan hewani di pasaran.

“Kita ingin menghadapi akhir tahun, terutama jelang Natal dan Tahun Baru, dalam kondisi yang stabil. Harga telur, harga daging, dan bahan pangan lain harus bisa dijaga,” ucap Darma.

Ia optimistis, jika proses distribusi jagung ini berjalan lancar dan sesuai target, maka stabilitas harga pangan di Sumatera Barat dapat terjaga hingga awal tahun depan.

Insya Allah, kami akan percepat pendistribusian ke seluruh wilayah penerima. Tujuan akhirnya adalah agar seluruh masyarakat bisa merasakan manfaat dari program ini,” tutupnya. (cc6)

Editor : Adetio Purtama
#bulog sumbar #harga pangan ternak #stabilisasi #jagung