Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Raja Minas: Cerita Panjang Sebuah Destinasi Kuliner dan Wisata Keluarga di Padang

Mengki Kurniawan • Sabtu, 15 November 2025 | 13:22 WIB

Raja Minas Jl Baypass KM 10 Kalumbuk Kuranji hadir sebagai destinasi kuliner keluarga dengan kolam pancing, fasilitas lengkap, dan cerita perjuangan menjaga operasional. (Ft: Mengki Kurniawan/Padeks)
Raja Minas Jl Baypass KM 10 Kalumbuk Kuranji hadir sebagai destinasi kuliner keluarga dengan kolam pancing, fasilitas lengkap, dan cerita perjuangan menjaga operasional. (Ft: Mengki Kurniawan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tepi Jalan Bypass KM 10, Kalumbuk, deretan pepohonan memantulkan bayangan ke permukaan kolam yang tenang.

Di sanalah Raja Minas berdiri—sebuah restoran sekaligus ruang rekreasi keluarga yang sejak awal 2000-an menjadi tempat singgah banyak orang.

Suasananya asri, khas kawasan pinggiran kota yang memberi jeda dari hiruk-pikuk Padang.

Raja Minas pertama kali beroperasi pada 2001 di Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji. Ruangannya sempit, dan parkir yang sering meluber hingga ke badan jalan menjadi masalah yang terus membayangi.

Setelah 10 tahun bertahan, pengelola akhirnya memutuskan untuk menutup sementara dan mencari lokasi baru yang lebih layak.

Butuh empat tahun hingga tempat itu menemukan rumah barunya. Pada 2015, Raja Minas resmi pindah ke lahan luas di KM 10.

Suasana Raja Minas Jl Baypass KM 10 Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)
Suasana Raja Minas Jl Baypass KM 10 Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. (Foto: Mengki Kurniawan/Padeks)

Area parkir yang lega, gazebo tersusun rapi, dan kolam pancing yang sudah lebih dulu ada di lokasi tersebut menjadikan tempat ini terasa seperti membuka lembaran baru.

Kini, kapasitasnya bisa mencapai 400 pengunjung. Mulai dari keluarga, komunitas, hingga kelompok kerja, semua pernah menjadikan tempat ini titik temu.

Kolam Pancing sebagai Ikon Utama

Pagi menjelang siang di Raja Minas selalu diwarnai suara riuh kecil para pemancing.

Di tepian kolam, tangan-tangan terulur, mata fokus pada pelampung yang perlahan tenggelam. Minat memancing sengaja dipertahankan sebagai keunikan.

Ikan hasil pancingan bisa dibawa pulang, cukup dengan membayar biaya kebersihan dan harga ikan sesuai berat.

Fasilitas lain menyusul melengkapi: musala, toilet, gazebo, ruang terbuka untuk rapat, TV dan proyektor untuk nobar, live music pada waktu tertentu, hingga parkir gratis.

Pengunjung Setia dan Suasana Rekreasi

Sabtu (15/11/2025) siang, Hamdani (45) duduk di tepi kolam sambil mengecek kailnya. Sesekali ia melirik teman-temannya yang sudah lebih dulu bersorak ketika mendapatkan ikan.

“Tempatnya asik, cocok buat refreshing,” ujarnya, tersenyum lebar. “Anak-anak bisa main, bapak-bapak bisa mancing. Komplet sudah.”

Raja Minas jarang memasang iklan besar, dan aktivitas media sosialnya pun tidak agresif.

Namun, justru dari sanalah kekuatannya: rekomendasi mulut ke mulut. Banyak pengunjung datang karena cerita teman atau pengalaman sebelumnya.

Operasional dan Tantangan yang Mengiringi

Sebelum pandemi COVID-19, Raja Minas buka hampir 24 jam, dari pukul 09.00 hingga 04.00 subuh.

Kini, jam operasional dipadatkan menjadi pukul 10.00–01.00 dini hari. Sekitar 30 karyawan bekerja dalam dua shift, ditambah tenaga freelance setiap akhir pekan.

Di tengah tingginya jumlah pengunjung, beban operasional ikut naik. Pengawas tempat, Yasri Uripsyah (44), menghitung kasar kebutuhan utama.

“Hanya untuk gaji karyawan, per bulan kami bisa tembus Rp60 juta,” katanya. “Belum bahan pokok, listrik, pajak, dan lain-lain.”

Ia tidak menampik bahwa beberapa bulan pemasukan bisa berada di titik minimal. Namun, ada satu hal yang tetap ingin dipertahankannya: pekerjaan karyawan.

“Kami ingin mereka tetap bekerja. Tidak mau ada pemecatan,” ucapnya tegas.

Harga bahan pokok yang fluktuatif dan tagihan pajak yang besar menjadi tantangan paling menguras tenaga.

Meski begitu, keamanan dan kenyamanan pengunjung tetap menjadi prioritas. Pengelola bekerja sama dengan RT/RW serta pihak kepolisian untuk memastikan area tetap aman.

Harapan ke Depan

Di balik keramaian yang terlihat setiap akhir pekan, ada harapan yang terus dijaga. Yasri berharap pemerintah memberikan penyesuaian pajak yang lebih rasional, agar usaha dapat berjalan lebih stabil.

“Harapan kami bisa berusaha dengan lebih nyaman,” katanya menutup percakapan. “Kami di sini juga punya niat membantu para pekerja kami.”

Raja Minas bukan sekadar tempat makan—dia adalah cerita ketahanan usaha lokal, ruang rekreasi, dan tempat keluarga kembali menemukan kebersamaan. (CR3)

Editor : Hendra Efison
#kolam pancing #wisata kuliner keluarga Padang #Raja Minas Padang