Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cuaca Ekstrem Hambat Kapal BBM di Belawan, Pertamina Optimalkan Skema Alih Suplai untuk Jaga Stabilitas Energi

Hendra Efison • Rabu, 26 November 2025 | 15:48 WIB

Cuaca ekstrem hambat sandar kapal BBM di Belawan, Pertamina Patra Niaga optimalkan alih suplai demi menjaga distribusi energi tetap stabil.
Cuaca ekstrem hambat sandar kapal BBM di Belawan, Pertamina Patra Niaga optimalkan alih suplai demi menjaga distribusi energi tetap stabil.
PADEK.JAWAPOS.COM—Cuaca ekstrem di perairan Belawan, Sumatra Utara, memicu gangguan serius pada rantai pasok bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Sumatera Bagian Utara.

Sejak 23 November 2025, dua kapal pengangkut Pertalite dan Biosolar tertahan di area Single Point Mooring (SPM) Belawan akibat gelombang tinggi dan angin kencang yang membuat proses sandar dinilai tidak aman secara operasional.

Kondisi ini mencerminkan tantangan global sektor energi, di mana faktor cuaca semakin memengaruhi logistik maritim. Dalam beberapa tahun terakhir, gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem meningkat seiring pola anomali iklim regional dan global.

Baca Juga: Sumbar Waspada Cuaca Ekstrem Hingga 29 November: Kombinasi IOD Negatif dan Bibit Siklon Picu Hujan Lebat

Alih Suplai dari Tiga Terminal Utama

Untuk mencegah kelangkaan di tingkat konsumen, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menerapkan skema alih suplai (RAE) dari beberapa terminal strategis, yakni:

Langkah ini menyasar penguatan stok Pertalite dan Biosolar di SPBU yang telah masuk kategori stok kritis. Skema distribusi berbasis prioritas (prioritization scheme) dilakukan agar daerah dengan tingkat konsumsi tertinggi tetap terlayani.

Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, keselamatan operasional tetap menjadi parameter utama dalam pengambilan keputusan.

Gangguan di Belawan memperlihatkan pola yang juga terjadi di berbagai pelabuhan dunia. Laporan sektor energi internasional menunjukkan tren peningkatan risiko keterlambatan suplai akibat:

Dalam konteks ini, strategi diversifikasi jalur suplai dan fleksibilitas terminal penyimpanan menjadi praktik standar industri energi global.

Prediksi Normalisasi Distribusi

Pertamina memproyeksikan normalisasi distribusi secara bertahap jika kondisi cuaca mulai membaik:

Pertamina juga memaksimalkan penyaluran Pertamax dan Pertamina Dex sebagai opsi alternatif selama masa transisi.

Koordinasi intens dilakukan dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk mencegah gangguan distribusi di tingkat ritel. Pertamina juga mengimbau masyarakat:

Pendekatan ini sejalan dengan praktik global dalam crisis supply chain communication, di mana stabilitas informasi publik menjadi komponen kunci pengendalian situasi.

Kasus Belawan menegaskan pentingnya strategi ketahanan energi berbasis risiko iklim. Ke depan, optimalisasi infrastruktur pelabuhan, teknologi pemantauan cuaca real time, serta fleksibilitas suplai lintas terminal menjadi faktor krusial dalam menjamin keamanan pasokan energi di tengah meningkatnya volatilitas cuaca ekstrem.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyatakan akan terus melakukan monitoring harian dan penyesuaian pola distribusi hingga kondisi penyaluran benar-benar stabil sepenuhnya.(*)

Editor : Hendra Efison
#suplai bbm #distribusi Pertalite #Pertamina Patra Niaga #cuaca ekstrem Belawan