Hingga kini, hanya jalur Simpang Ampek–Panti yang sudah kembali terbuka untuk akses lalu lintas.
Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Armizoprades mengatakan pihaknya terus mengerahkan alat berat dan personel, terutama pada titik rawan di Kelok 44, ruas Padang Sawah–Palupuh, serta Matur.
“Sisanya masih belum tuntas dan belum bisa dilewati,” ujar Armizoprades, didampingi Ka UPTD Wilayah I Elfiandri dan PPK Toni.
Dari wilayah Agam, Kepala UPTD Hermanita Sabir menyampaikan bahwa jalan provinsi belum dapat dilalui kendaraan, kecuali sepeda motor.
Peninjauan lapangan kembali dilakukan pada Minggu (30/11/2025) oleh Kepala Dinas BMCKTR bersama Kepala Bidang Bina Marga dan Kepala UPTD Wilayah III di sepanjang jalur Koto Mambang–Balingka.
Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan kebutuhan percepatan penanganan.
Rangkaian Penanganan Longsor dan Kerusakan Infrastruktur:
- Longsor 28 November 2025
Longsor di ruas Koto Mambang–Balingka ditangani sejak hari kejadian. Peralatan dari pihak Gerindra membantu membuka akses sementara sebelum penanganan teknis dilanjutkan oleh Dinas BMCKTR. - Jembatan Katangka
Sejak 29 November 2025, jembatan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat melalui jembatan darurat berlantai kayu. Mulai 1 Desember, penimbunan oprit jembatan dilakukan untuk memastikan akses lebih aman. - Material galodo di Jorong Toboh Tangah
BMCKTR akan menurunkan alat berat untuk membersihkan sisa material demi memulihkan fungsi jalan. - Jembatan Toboh Gadang
Jembatan ini putus total dan tidak memungkinkan penanganan darurat karena bentang yang terlalu lebar. Diperlukan pembangunan jembatan permanen sepanjang 80 meter dengan estimasi biaya Rp25 miliar. Di sekitar lokasi, teridentifikasi 25 titik longsor, dua di antaranya dalam kondisi kritis akibat badan jalan terban. - Penanganan alat berat
Satu unit ekskavator milik HKI telah dikerahkan pada dini hari untuk membersihkan material longsor di ruas Koto Mambang–Balingka sebagai bagian dari upaya percepatan pembukaan akses.