Sebanyak 95 orang masih hilang, 112 luka-luka, serta 20.474 warga terpaksa mengungsi dari total 247.762 jiwa yang terdampak langsung.
Kerugian material akibat banjir dan longsor mencapai Rp1.843.816.487.717. Dampak tersebut meliputi kerusakan infrastruktur, rumah warga, lahan pertanian, dan sektor ekonomi lainnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan keprihatinan atas kondisi tersebut.
“Kami sangat berduka atas kehilangan nyawa dan kerugian yang dialami masyarakat. Pemerintah bersama TNI, Polri, Basarnas, tim medis, dan relawan terus bergerak untuk penyelamatan dan pemulihan akses,” kata Sekda Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi.
Ia menyebut beberapa wilayah masih terisolasi akibat kerusakan jalan dan jembatan, sehingga menyulitkan distribusi bantuan.
Data menunjukkan 147 unit telekomunikasi rusak, 172 ruas jalan dan 46 jembatan terdampak, serta 153 rumah ibadah, 66 fasilitas kesehatan, 28 kantor pemerintahan, dan 170 sekolah mengalami gangguan.
Kerusakan sektor pertanian juga signifikan. Sebanyak 6.749 hektare sawah, 6.713 hektare lahan pertanian, 1.031 hektare kebun, dan 10.486 hektare kolam terendam.
Selain itu, 5.290 rumah rusak ringan, 983 rusak sedang, 1.629 rusak berat, 38.900 terendam, dan 755 hilang terbawa arus.
Pemerintah telah menyalurkan bantuan melalui jalur udara dengan total 9.064 koli berbobot 30.719 kilogram ke tujuh daerah terdampak, dengan Agam sebagai penerima terbesar.
Bantuan darat juga digencarkan, termasuk 10 ton sembako dan peralatan untuk Kota Padang, serta starlink, genset, tenda, dan bahan kebutuhan pokok untuk Kabupaten Agam.
Arry Yuswandi menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah evakuasi wilayah terisolasi, pelayanan kesehatan di posko, serta pemulihan telekomunikasi.
“Kami menyiapkan pemulihan jangka panjang agar masyarakat dapat kembali pulih,” ujarnya.(CR1)
Editor : Hendra Efison