Camat Tanjungraya, Al Hafidz, mengatakan penutupan dilakukan demi kelancaran dan keselamatan selama proses pengerjaan jembatan berlangsung. Selama pekerjaan, seluruh kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintasi jalur tersebut.
”Kami mengimbau masyarakat yang biasa menggunakan akses Sungaibatang–Maninjau atau sebaliknya, untuk sementara lalu lintas kendaraan dihentikan karena adanya pengerjaan jembatan Armco di bekas jalan amblas Jorong Bancah,” ujar Al Hafidz, Senin (29/12).
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kecamatan telah menyiapkan jalur alternatif melalui jalan lingkar Danau Maninjau. Kendaraan dari Maninjau menuju Sungaibatang maupun sebaliknya dialihkan melalui Sigiran–Sungai Tampang–Muko-muko–Tanjungsani.
”Jalur lingkar Danau Maninjau kami siapkan sebagai akses sementara. Kami berharap masyarakat dapat mengikuti pengaturan ini demi keselamatan bersama,” katanya.
Sementara itu, warga Sungaibatang, Rudi Yudistira, menyebutkan pemasangan jembatan Armco tersebut dilaksanakan oleh personel Zeni Tempur TNI sebagai bagian dari percepatan penanganan dampak banjir bandang di Kecamatan Tanjungraya. Lama pengerjaan, kata dia, sangat bergantung pada kondisi cuaca.
”Kalau cuaca mendukung, paling cepat sekitar lima hari. Namun jika hujan terus, bisa memakan waktu hingga 15 hari,” jelas Rudi.
Ia menegaskan, pembangunan jembatan ini sangat vital karena menjadi akses utama bagi sekitar 5.000 jiwa di Nagari Sungaibatang. Selain itu, jalur ini juga dimanfaatkan warga Tanjungsani, seperti Jorong Pandan, Galapuang, Batu Nanggai hingga Muko Jalan yang hendak menuju Bukittinggi maupun Pasa Maninjau.
”Selama ini akses darurat hanya menggunakan batang kelapa dan sangat rawan. Dengan Armco, diharapkan akses lebih aman dan tidak lagi terganggu saat debit air meningkat,” ujarnya.
Terpisah, Batituud Koramil 05 Tanjungraya, Pelda Yusrizal, mengatakan pemasangan jembatan darurat tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana banjir bandang. Material jembatan Armco merupakan bantuan Mabes TNI melalui Korps Zeni Angkatan Darat (Pusziad).
”Kerangka Armco sudah kami terima Sabtu (27/12) dan mulai dipasang hari ini oleh personel Zeni Tempur bersama YTP 897/SGL di jalur darurat Jorong Bancah,” kata Yusrizal.
Ia menjelaskan, jembatan Armco merupakan jembatan darurat atau sementara yang terbuat dari pipa baja bergelombang (corrugated steel pipe) atau baja modular. Konstruksi ini dirancang untuk dipasang secara cepat pada kondisi darurat, terutama pascabencana alam seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
”Jembatan ini sifatnya darurat, tetapi kuat dan aman dilalui. Sangat efektif untuk memulihkan akses transportasi masyarakat dan logistik pascabencana,” ujarnya.
Saat ini pemasangan Armco baru dilakukan di satu titik di Bancah. Setelah rampung, TNI berencana mengajukan pemasangan serupa di titik lain, termasuk di sungai Batang Tumayo yang hingga kini masih mengandalkan jembatan kayu dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Dengan kembali terbukanya akses Maninjau–Sungaibatang nantinya, diharapkan distribusi bantuan kemanusiaan dan logistik dapat berjalan lancar, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat segera pulih pascabencana.
Di lain sisi, kondisi aliran Bancahbalok di Jorong Bancah, kian memprihatinkan. Senin pagi aliran sungai tersebut tidak lagi mengalir pada jalurnya dan justru menyebar ke berbagai arah hingga menggenangi badan jalan.
Pantauan di lapangan menunjukkan, air sungai yang seharusnya mengalir di bawah jembatan meluber ke jalan. Luapan air dipicu pendangkalan sungai serta tersumbatnya aliran di bawah jembatan lama peninggalan Belanda yang hingga kini masih difungsikan.
Akibatnya, material yang terbawa arus berupa kerikil, batu, hingga potongan kayu berserakan di badan jalan. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.
Warga setempat, Rudi Yudistira, menyebut kejadian serupa sudah berulang kali terjadi sejak pascabencana galodo yang melanda kawasan Maninjau.
”Air sudah tidak lagi mengalir di sungai. Begitu hujan turun, air langsung menyebar ke mana-mana, bahkan naik ke jalan. Batu, kerikil, dan kayu ikut terbawa dan menumpuk,” ujar Rudi.
Ia mengatakan kondisi serupa juga terjadi di kawasan jembatan batang Muaro Pisang. Sejak galodo, aliran sungai di bawah jembatan tersebut kerap tersumbat sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
”Kalau hujan lebat, air tidak lewat di bawah jembatan, tapi justru memanjat jembatan. Lumpur, batu, dan kayu langsung tumpah ke jalan dengan volume besar,” katanya.
Menurut Rudi, setiap hujan deras jalan di sekitar jembatan batang Muaro Pisang kerap tak bisa dilalui kendaraan karena tertutup material banjir. Kondisi itu dinilainya sangat membahayakan dan mengganggu aktivitas warga.
Ia menilai akar persoalan di Bancahbalok dan batang Muaro Pisang sama, yakni pendangkalan sungai yang parah serta desain jembatan lama yang tidak lagi layak.
”Jembatan ini bangunan lama peninggalan Belanda. Secara fungsi sudah tidak mampu menampung debit air. Kalau dibiarkan, ini hanya menunggu bencana berikutnya. Sudah semestinya diganti dengan jembatan yang lebih lebar, lebih tinggi, dan aman,” tegasnya.
Warga pun mendesak pemerintah daerah segera melakukan penanganan serius dan menyeluruh agar ancaman banjir bandang serta terputusnya akses jalan tidak terus berulang setiap musim hujan di kawasan Maninjau. ”Jangan tunggu korban atau bencana besar dulu baru bertindak,” pungkasnya. (*)
Editor : Eri Mardinal