Perubahan desain struktur bawah tersebut diputuskan setelah kajian teknis dan divalidasi oleh PT Yodya Karya selaku konsultan perencana bersama Manajemen Konstruksi, sesuai standar mutu, waktu, dan biaya pemilik proyek UNP.
Direktur PT Cipta Anugerah Indotama (CAI), Hadi Wardoyo, mengatakan pondasi KJRB merupakan pengembangan teknologi untuk bangunan 2–8 lantai dengan distribusi beban lebih merata dan stabil.
“KJRB hadir sebagai penyempurnaan yang lebih presisi untuk bangunan tanggung, dengan ketahanan struktur yang jauh lebih stabil,” ujar Hadi Wardoyo, Minggu (28/12/2025).
Project Manager PT NKE selaku kontraktor utama, Herianto, menyebut KJRB lebih cepat, ekonomis, dan ramah lingkungan dibanding bore pile.
“Pelaksanaannya lebih cepat, minim getaran, tidak menghasilkan limbah lumpur pengeboran, serta biaya lebih efisien tanpa mengurangi kekuatan struktur,” kata Herianto.
Rektor UNP periode sebelumnya, Prof. Ganefri, menyatakan pemilihan KJRB merujuk pengalaman empiris Gempa Padang 2009.
“Gedung UNP yang menggunakan sistem KSLL, cikal bakal KJRB, terbukti tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan struktural berarti,” ujarnya.
Pakar Geoteknik Universitas Andalas, Prof. Abdul Hakam, menambahkan KJRB telah banyak digunakan pada gedung bertingkat di Kota Padang dan terbukti secara empiris tahan gempa.
“Gedung-gedung yang memakai KJRB seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan fasilitas publik tidak mengalami kerusakan signifikan,” katanya.
Pakar geologi dan kegempaan Unand, Dr. Ir. Badrul Mustafa Kemal MS, DEA, menyebut KJRB sebagai penyempurnaan KSLL yang aman untuk daerah rawan gempa dan tanah lunak.
Pekerjaan pondasi KJRB Gedung Perpustakaan UNP diselesaikan oleh PT CAI dalam waktu 105 hari di bawah koordinasi PT NKE dan pengawasan ketat Manajemen Konstruksi serta PT Yodya Karya. (*)
Editor : Hendra Efison