Kantin tersebut dikelola Yusna (50), pedagang yang telah berjualan di lingkungan Unand selama 13 tahun dan menggantungkan penghasilan dari aktivitas perkuliahan mahasiswa.
Yusna mengatakan omzet kantin sangat bergantung pada jadwal kuliah. Saat mahasiswa libur atau kuliah daring, pendapatan mengalami penurunan signifikan.
“Sempat sepi saat Covid-19. Dua tahun mahasiswa kuliah daring, pendapatan hampir tidak ada, tapi kontrak kantin tetap berjalan,” ujar Yusna saat dijumpai Padang Ekspres pada Senin (29/12/2025) lalu.
Ia menjelaskan biaya kontrak kantin tetap dibayarkan tahunan, sementara aktivitas kampus hanya berjalan sekitar delapan bulan dalam setahun.
“Kadang sehari cuma dapat Rp100.000. Tetap buka supaya bisa menutup kontrak, daripada di rumah,” katanya.
Selama berjualan, Yusna telah beberapa kali berpindah lokasi kantin di lingkungan Unand, mulai dari proyek Business Center, Poliklinik Pulau Air, Pusat Bahasa, hingga menetap di kawasan DPR Unand bersama suaminya.
Selain pandemi, Yusna juga sempat menutup kantin selama dua pekan akibat membantu keluarga terdampak banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Lambung Bukit.
Dari hasil berjualan, Yusna berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga lulus perguruan tinggi, masing-masing di Poltekkes Siteba Padang dan UIN Imam Bonjol.
Mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Unand, Ikhwanul Arif (23), mengaku kerap makan di kantin tersebut karena harga terjangkau dan pelayanan ramah.
“Makanannya enak, harganya terjangkau, dan bundanya ramah. Kadang nambah nasi juga tidak dikenakan biaya,” ujarnya.
Yusna juga mengaku kerap membantu mahasiswa yang tidak memiliki uang dengan tetap menyajikan makanan.
“Kadang dalam rezeki kita ada rezeki orang lain,” katanya. (CR4)
Editor : Hendra Efison