Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lahan Pertanian Sumbar Rusak Akibat Bencana, Pakar Ekonomi Peringatkan Risiko Kemiskinan Baru

Riyadhatul Khalbi • Minggu, 4 Januari 2026 | 17:14 WIB

Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE., MA., dan Prof. Dr. Elfindri, SE., MA.,
Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE., MA., dan Prof. Dr. Elfindri, SE., MA.,
PADEK.JAWAPOS.COM—Banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem di Kota Padang dan sejumlah wilayah Sumatera Barat merusak lahan pertanian, mengancam pendapatan petani dan stabilitas pangan, sehingga diperlukan rehabilitasi lahan, irigasi, dan dukungan cepat bagi petani.

Banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem melanda Kota Padang dan sejumlah wilayah Sumatera Barat pada 2025, merusak lahan pertanian dan berdampak pada perekonomian serta ketahanan pangan masyarakat.

Pakar ekonomi Universitas Andalas, Prof. Dr. Elfindri, SE., MA., menyatakan aktivitas pertanian di Kota Padang, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), serta Agam seperti Malalak dan Palembayan terganggu akibat galodo.

“Untuk wilayah tersebut ditemukan sawah yang hilang atau tertimbun. Ini memerlukan upaya percetakan kembali sawah terdampak dan need assessment terhadap petani,” ujar Elfindri, Kamis (1/1/2025).

Ia menambahkan, sarana irigasi yang terdampak perlu didata untuk pembangunan jalur air dan perbaikan irigasi agar kebutuhan air petani kembali terpenuhi.

“Jika fisik sawah atau ladang rusak, petani perlu dibantu agar mampu mengupayakan sawah baru. Petani juga dapat dilibatkan dalam program penghijauan melalui skema cash for work,” katanya.

Elfindri juga menyoroti dampak bencana terhadap sektor peternakan dan perikanan yang berisiko kehilangan usaha utama maupun sampingan.

“Skema bantuan peternakan dan perikanan perlu disiapkan agar usaha mereka dapat pulih,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE., MA., menyatakan kerusakan lahan pertanian berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga tani dan rantai ekonomi desa.

“Petani kehilangan panen, buruh tani kehilangan upah, pedagang input dan penggilingan kehilangan omzet, hingga transportasi desa kehilangan muatan,” kata Syafruddin kepada Padang Ekspres, Sabtu (3/1/2026).

Ia mengingatkan penurunan produksi dapat memicu kenaikan harga pangan dan menekan daya beli masyarakat berpendapatan rendah.

“Jika berlanjut, desa terdampak berisiko jatuh ke kemiskinan baru akibat hilangnya produktivitas,” ujarnya.

Syafruddin merekomendasikan tiga langkah utama pemerintah, yakni rehabilitasi lahan dan irigasi prioritas, perbaikan akses logistik pertanian, serta bantuan modal tanam cepat bagi petani.

“Stok pangan bukan sekadar isu gudang, tetapi syarat stabilitas sosial dan kredibilitas kebijakan ekonomi,” tegasnya. (CR4)

Editor : Hendra Efison
#pemulihan pertanian pascabencana #Prof Syafruddin Karimi #banjir longsor 2025 #dampak ekonomi bencana #Prof Elfindri #kerusakan lahan pertanian Sumbar