Prof Syafrudin menjelaskan emas umumnya berperan sebagai aset aman saat ketidakpastian meningkat.
Ia menyebut permintaan sering menguat ketika risiko pasar naik, namun fase kenaikan harga juga memicu perilaku ikut-ramai.
“Perhatian investor terbukti dapat mengerek harga pada horizon pendek dan meningkatkan risiko pembelian di puncak siklus bila keputusan hanya mengikuti sorotan publik,” ujarnya.
Ia menilai strategi yang lebih tepat adalah melakukan pembelian emas secara bertahap, memahami biaya transaksi, serta menetapkan porsi aset agar kebutuhan likuiditas rumah tangga tetap aman.
Dari sisi penjualan, ia menegaskan keputusan ideal didasarkan pada tujuan, seperti kebutuhan kas atau penyesuaian portofolio.
“Kecenderungan mengamankan keuntungan juga merupakan mekanisme koreksi yang lazim ketika harga tinggi memancing profit taking,” katanya.
Prof Syafrudin juga menyoroti kuatnya tradisi masyarakat Minangkabau dalam menyimpan emas sebagai cadangan nilai keluarga.
Menurutnya, faktor budaya tersebut masih relevan karena emas portabel, mudah diwariskan, dan relatif tahan terhadap risiko institusional.
Namun, ia mengingatkan emas bukan penghasil arus kas sehingga nilainya sangat dipengaruhi rezim makroekonomi, termasuk suku bunga riil dan nilai dolar. Hubungan dengan inflasi pun tidak selalu stabil.
“Karena itu, tidak bijak menempatkan emas sebagai satu-satunya pagar daya beli,” ujarnya.
Terkait perlambatan ekonomi Sumbar, ia menyarankan masyarakat memperkuat kapasitas ekonomi rumah tangga dengan meningkatkan keterampilan, produktivitas usaha, dan diversifikasi penghasilan.
Emas, katanya, tetap dapat menjadi cadangan nilai, tetapi tidak boleh menggantikan investasi produktif lokal yang menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
“Masyarakat sebaiknya menjaga porsi aset aman sebagai penyangga, sambil tetap mengarahkan tabungan baru ke kegiatan yang memperbaiki kapasitas produksi keluarga dan nagari,” kata Prof Syafrudin.
Ia menegaskan keseimbangan antara tradisi menyimpan emas dan orientasi usaha menjadi kunci memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat Sumbar.(yud)
Editor : Hendra Efison