Petugas PGA Marapi, Teguh Purnomo, menyebut erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 27,5 milimeter dan durasi sekitar 28 detik.
“Erupsi tercatat pada seismogram, namun kolom abu tidak teramati secara visual dari pos pengamatan,” kata Teguh Purnomo, Minggu (25/1/2026).
Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status aktivitas Gunung Marapi pada Level II atau Waspada.
Seiring status tersebut, PVMBG merekomendasikan masyarakat, pendaki, dan wisatawan untuk tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Marapi atau Kawah Verbeek.
Selain potensi erupsi, PVMBG juga mengingatkan ancaman bahaya sekunder berupa banjir lahar.
Warga yang bermukim di sepanjang aliran sungai berhulu di puncak Marapi diminta tetap waspada, terutama saat hujan turun.
“Apabila terjadi hujan abu, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan dari risiko ISPA,” ujar Teguh.
Badan Geologi meminta pemerintah daerah di Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Marapi serta PVMBG.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Informasi resmi terkait aktivitas Gunung Marapi dapat diakses melalui aplikasi MAGMA Indonesia dan kanal resmi PVMBG. (cc1)
Editor : Hendra Efison