Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BPOM RI Dorong Hilirisasi Riset Industri Jamu lewat Kolaborasi dengan Universitas Andalas

Riyadhatul Khalbi • Sabtu, 7 Februari 2026 | 11:45 WIB

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (6/2).
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (6/2).
PADEK.JAWAPOS.COM—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi dalam rangka mendorong inovasi produk kesehatan nasional.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, ke Universitas Andalas (Unand), Jumat (6/2).

Kegiatan yang digelar di Convention Hall Kampus Universitas Andalas, Jalan Dr. Mohammad Hatta, Limaumanis, Kecamatan Pauh, tersebut dihadiri ratusan civitas akademika. Dalam kesempatan itu, Taruna Ikrar berbagi pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara regulator, akademisi, dan dunia usaha untuk mempercepat hilirisasi hasil riset.

BPOM mendorong penguatan kolaborasi ABG (Academic, Business, Government) sebagai strategi utama dalam memaksimalkan inovasi dan penelitian agar dapat dikomersialkan secara luas.

Pemerintah berperan sebagai penyedia regulasi dan otorisasi pemasaran, akademisi sebagai pencipta inovasi dan pengembang produk, sementara sektor bisnis berperan dalam mendukung proses hulu hingga hilir industri.

Universitas Andalas sendiri telah menjalin kerja sama strategis dengan BPOM RI, khususnya dalam evaluasi manfaat dan keamanan obat serta peningkatan kualitas riset produk-produk kesehatan. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi baru, sekaligus memperkuat ketahanan bahan baku obat nasional.

Salah satu produk yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah jamu. Produk tradisional asli Indonesia ini telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage atau warisan budaya tak benda Indonesia. Jamu mencerminkan pengetahuan dan keterampilan tradisional dalam pengobatan berbasis tumbuhan dan rempah-rempah.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyebutkan bahwa jamu memiliki nilai ekonomi yang sangat besar, meskipun hingga kini belum dikelola secara optimal. Menurutnya, BPOM tengah melakukan pembenahan regulasi untuk mendorong pertumbuhan industri jamu, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Jamu kita itu sudah hampir 20 ribu nomor izin edar yang dikeluarkan BPOM. Potensi ekonominya sangat besar, bisa mencapai Rp350 triliun per tahun. Namun, pengelolaannya belum maksimal. Saat ini kami sedang memperbaiki regulasi, termasuk yang berkaitan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58, dan memperkuat peraturan BPOM agar industri jamu bisa tumbuh lebih subur,” ujar Taruna Ikrar.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan riset berkualitas yang mampu melahirkan produk inovatif.

Namun, menurutnya, hasil riset tersebut membutuhkan dukungan kolaborasi lintas sektor agar dapat dikembangkan hingga skala industri.

“Kami telah menghasilkan cukup banyak paten dari riset dosen. Tantangannya adalah bagaimana hasil riset tersebut memiliki off-taker untuk scaling up. Ketika sudah masuk skala pabrik, pasarnya harus jelas, dan tentu dibutuhkan dukungan pemerintah agar produk lokal mendapat tempat di masyarakat,” kata Efa.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan potensi lokal untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat. Universitas Andalas, lanjutnya, telah memiliki fasilitas laboratorium yang memadai untuk riset, namun masih diperlukan penguatan hubungan antara peneliti dan pelaku industri.

“Ke depan, kami ingin sejak awal dunia industri terlibat dalam merumuskan kebutuhan riset. Dengan begitu, ketika riset selesai dan produk tersedia, hasilnya bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutup Efa. (cr4)

Editor : Adetio Purtama
#bpom ri #industri jamu #universitas andalas #hilirisasi