Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jam Gadang vs Menara Songket: Dua Zaman, Dua Cara Membangun, Ikon Bukittinggi Genap 100 Tahun pada 2026

Hendra Efison • Minggu, 8 Februari 2026 | 12:02 WIB

Sumatera Barat patut berbangga memiliki Duo Menara kebanggaan yang  ikonik: Jam Gadang setinggi 26 meter di Bukittinggi dan Menara Songket 32 meter di Solok Selatan.
Sumatera Barat patut berbangga memiliki Duo Menara kebanggaan yang ikonik: Jam Gadang setinggi 26 meter di Bukittinggi dan Menara Songket 32 meter di Solok Selatan.
PADEK.JAWAPOS.COM— Jam Gadang, menara jam setinggi sekitar 26 meter di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, genap berusia 100 tahun pada 2026; bangunan yang didirikan pada 1926 itu tetap berdiri kokoh sebagai ikon daerah dan tidak dibuka untuk umum hingga ke puncak.

Menara ini dibangun pada masa kolonial atas perintah Ratu Belanda sebagai hadiah untuk Sekretaris Kota Bukittinggi, HR Rookmaker.

Struktur Jam Gadang dikenal menggunakan campuran putih telur tanpa semen konvensional. Hingga kini, akses naik ke dalam menara dibatasi demi keamanan dan pelestarian bangunan.

Sebagai pembanding, Kabupaten Solok Selatan memiliki Menara Songket setinggi 32 meter yang dibangun pada 2018 menggunakan teknologi modern, material Semen Padang, dan tiang baja.

Arsitek Menara Songket, Yori Antar, menyebut desain tangga memungkinkan pengunjung mencapai puncak tanpa lift. Tangga dirancang ergonomis untuk meminimalkan kelelahan.

Menara Songket dibangun atas perintah Presiden Republik Indonesia sebagai bagian pengembangan kawasan Saribu Rumah Gadang menjadi destinasi kampung etnik.

Pegiat pariwisata Sumatera Barat, Nofrins Napilus, mengatakan peringatan satu abad Jam Gadang perlu dimaknai sebagai upaya pelestarian.

“Apapun proses yang terjadi dulu, Jam Gadang sudah jadi simbol kebanggaan dunia, bukan hanya Sumbar. Jadi perlu kita jaga dan lestarikan terus dengan baik,” ujar Nofrins, Minggu (8/2/2026).

Ia menambahkan Jam Gadang dapat difungsikan sebagai ruang edukasi sejarah bagi generasi muda.

Nofrins juga membandingkan pendekatan pembangunan masa lalu dengan proyek modern seperti Menara Songket. Menurutnya, standar keselamatan kerja kini lebih diperhatikan.

“Kalau Jam Gadang dibangun di masa ketika keselamatan kerja mungkin belum menjadi perhatian utama, Menara Songket justru lahir dari semangat sebaliknya. Proyek Menara Songket yang merupakan bagian Program Revitalisasi Saribu Rumah Gadang, dibangun dengan kerja sama dan mencatatkan zero accident. Ini menunjukkan perubahan cara kita memandang dan melaksanakan pembangunan,” katanya.

Baca Juga: Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026, Indonesia Tak Bisa Menyaksikan Langsung

Selama satu abad, Jam Gadang telah melalui periode kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, hingga era modern. Perubahan ornamen dan bentuk jam mencerminkan dinamika sejarah tersebut.

Pemerintah daerah dan pegiat pariwisata berharap keberadaan Jam Gadang di Bukittinggi dan Menara Songket di Solok Selatan dapat memperkuat daya tarik wisata Sumatera Barat.(*)

Editor : Hendra Efison
#sejarah Jam Gadang 1926 #Menara Songket Solok Selatan #Jam Gadang Bukittinggi 100 tahun #ikon wisata Sumatera Barat