Keputusan ini merujuk pada hasil Musyawarah Nasional (Munas) XXXII Tarjih Muhammadiyah yang menetapkan penggunaan KHGT sebagai sistem penanggalan hijriah global.
Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip dari muhammadiyah.or.id, sistem KHGT memandang bumi sebagai satu kesatuan matlak sehingga awal bulan hijriah berlaku serentak di seluruh dunia.
Dengan konsep tersebut, penentuan awal bulan tidak lagi terikat oleh batas wilayah geografis maupun otoritas politik negara tertentu.
Berdasar Parameter Astronomi
Penetapan 1 Syawal 1447 H didasarkan pada terpenuhinya parameter astronomis yang ditetapkan dalam kriteria KHGT.
Dalam sistem ini, bulan baru dinyatakan dimulai apabila sebelum pukul 24.00 UTC di titik mana pun di dunia telah terpenuhi elongasi minimal 8 derajat dan tinggi hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.
Data astronomi menunjukkan ijtimak menjelang Syawal terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC.
Setelah fase tersebut, posisi bulan bergerak menjauh dari matahari hingga memenuhi syarat visibilitas hilal.
Lokasi pertama yang memenuhi kriteria tersebut tercatat berada pada koordinat 64° 59′ 57.47″ LU dan 42° 3′ 3.47″ BT.
Di titik tersebut, saat matahari terbenam pukul 15:24:03 UTC, tinggi bulan mencapai 6,49 derajat dengan elongasi 8 derajat.
Konfirmasi Parameter di Makkah
Parameter astronomi juga tercatat memenuhi kriteria di Makkah, Arab Saudi.
Pada 19 Maret 2026, tinggi bulan geosentrik saat matahari terbenam pukul 15:34:04 UTC tercatat +06° 09' 09'' dengan elongasi +08° 05' 24''.
Nilai tersebut telah melampaui ambang batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria global KHGT.
Selain itu, validasi juga dilakukan melalui waktu fajar di Selandia Baru yang tercatat pada pukul 16:50:02 UTC.
Karena seluruh parameter terpenuhi sebelum pergantian hari UTC, maka awal bulan Syawal dinyatakan sah secara sistemik.
Upaya Menyatukan Kalender Hijriah Global
Muhammadiyah menyatakan penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal diharapkan menjadi solusi atas perbedaan penentuan tanggal penting umat Islam di berbagai negara.
Dengan prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia, sistem ini memungkinkan penanggalan hijriah diprediksi secara lebih akurat di masa depan.
Penetapan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi keputusan Munas Tarjih Muhammadiyah dalam pengembangan sistem kalender Islam berbasis astronomi global.(*)
Editor : Hendra Efison