Kepala BMKG Maritim Teluk Bayur, Sahat Mauli Pasaribu, menjelaskan bahwa ancaman banjir pesisir ini dipicu oleh peristiwa astronomi fase Bulan Baru atau New Moon yang jatuh pada 19 Maret 2026. Kondisi ini secara alami memicu pasang air laut yang lebih tinggi dari biasanya.
Berdasarkan data teknis, pasang air laut maksimum diprediksi mencapai ketinggian 1,3 hingga 1,4 meter. Puncak pasang ini diperkirakan terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.
"Kondisi ini terkait pasang akibat bulan penuh (fase Bulan Baru) yang beriringan dengan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di wilayah perairan Sumatera Barat dan Mentawai," ujar Sahat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/3/2026).
Selain faktor pasang, BMKG juga memantau kondisi angin dan gelombang. Gelombang laut di wilayah tersebut diperkirakan berada pada kisaran 0,50 hingga 1,20 meter.
Kecepatan angin rata-rata bergerak di angka 2 hingga 10 knots, namun masyarakat perlu mewaspadai perubahan angin mendadak yang bisa mencapai kecepatan 15 knots.
BMKG memetakan sejumlah titik yang memiliki kerawanan tinggi terhadap banjir rob. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Pasaman Barat, Agam, Padang, Padangpariaman, Pesisir Selatan, serta Kepulauan Mentawai.
Meskipun terdapat akumulasi antara fenomena pasang dan curah hujan, BMKG menyatakan bahwa dampak banjir rob kali ini masuk dalam kategori ringan. Banjir diperkirakan hanya akan menggenangi area rendah di sekitar bibir pantai tanpa kerusakan struktural yang luas.
Pihak BMKG Maritim Teluk Bayur mengimbau warga yang bermukim di sepanjang tepi pantai agar tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Langkah antisipasi dini perlu dilakukan guna meminimalisir kerugian akibat genangan air laut.
"Kami harap masyarakat di tepi pantai tetap tenang namun selalu waspada. Potensi banjir rob ini nyata, meski masuk dalam kategori ringan. Pantau terus informasi resmi dari kanal komunikasi kami," pungkasnya. (cc1)
Editor : Adetio Purtama