Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Unand Gelar Summer Course Internasional 2026, Bahas Gender, Iklim, dan Pembangunan Desa

Rommy Delfiano • Senin, 27 April 2026 | 20:22 WIB
Universitas Andalas menggelar Summer Course Internasional 2026 bertema gender, perubahan iklim, dan pembangunan desa di Sumatera Barat, 12–19 April 2026.
Universitas Andalas menggelar Summer Course Internasional 2026 bertema gender, perubahan iklim, dan pembangunan desa di Sumatera Barat, 12–19 April 2026.

PADEK.JAWAPOS.COM— Universitas Andalas kembali menunjukkan eksistensinya di kancah global melalui penyelenggaraan Summer Course Internasional 2026.

Program bertema “Gender Equality, Climate Change, and Rural Development” ini berlangsung pada 12–19 April 2026 di Sumatera Barat.

Kegiatan tersebut memadukan pembelajaran akademik, diskusi lintas negara, hingga praktik lapangan sebagai upaya menjawab isu pembangunan yang semakin kompleks.

Program ini dibuka oleh Henmaidi yang didampingi Direktur Pascasarjana Henny Lucida. Dalam sambutannya, keduanya menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk menghadapi tantangan global.

Baca Juga: Kemenpar Bidik Tanahdatar Tembus Pasar Global, Kampung Minang hingga Puncak Aua Sarumpun Jadi Andalan

Ketua pelaksana, Ami Sukma Utami, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai ruang interaktif berbasis multidisiplin yang menghubungkan isu kesetaraan gender, perubahan iklim, dan pembangunan pedesaan dalam satu kerangka pembelajaran.

Peserta kegiatan berasal dari tujuh negara, yakni Pakistan, Bangladesh, Suriname, Gambia, China, Vietnam, dan Indonesia.

Keberagaman latar belakang ini mendorong diskusi yang kaya perspektif, mulai dari ketimpangan gender hingga strategi pembangunan desa di berbagai negara.

Selama delapan hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi teori, studi kasus internasional, hingga analisis kebijakan.

Salah satu narasumber utama, Raza Ullah, menghadirkan pendekatan case-based learning yang menitikberatkan pada pemecahan masalah nyata.

Baca Juga: In Memoriam Iyut Fitra: Penyair yang Pergi Menjelang Hari Puisi

Materi pembelajaran juga diperkuat oleh sejumlah akademisi nasional, di antaranya Rudy Febriamansyah, Yonariza, Melinda Noer, Vonny Indah Mutiara, Widya Fitriana, serta Yuerlita.

Kegiatan ini juga difasilitasi oleh Cindy Paloma untuk menjaga dinamika interaksi peserta.

Keunggulan program ini terletak pada integrasi teori dan praktik. Peserta diajak langsung ke Desa Wisata Kubu Gadang untuk mempelajari model pembangunan berbasis masyarakat.

Di lokasi tersebut, peserta melihat bagaimana potensi lokal—baik budaya, ekonomi, maupun sosial—dikembangkan secara berkelanjutan.

Peran perempuan menjadi sorotan karena terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi, terutama sektor pariwisata berbasis budaya.

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Dua Rumah Gadang di Situjuah, Kerugian Ditaksir Rp300 Juta

Peserta juga mengikuti berbagai aktivitas budaya Minangkabau, seperti randai, tari piring, musik tradisional, hingga membuat pupuik dari batang padi dan memasak kuliner lokal seperti onde-onde.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya menjadi bagian penting dalam pembangunan desa.

Pendalaman isu perubahan iklim dilakukan melalui kunjungan ke Rambatan. Di sana, peserta berdialog langsung dengan petani mengenai perubahan pola musim, ketersediaan air, serta dampaknya terhadap hasil pertanian.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa perubahan iklim telah berdampak nyata terhadap kehidupan petani.

Peserta juga mempelajari berbagai strategi adaptasi lokal, termasuk penyesuaian pola tanam dan inovasi pengelolaan sumber daya.

Baca Juga: Pengacara Laporkan Akun IG Diduga Fitnah Resto Lesmana ke Polda Sumbar

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY dengan kontrak No. 4304/B3/DT.03.08/2025.

Dukungan tersebut memungkinkan pelaksanaan program yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong pemikiran kritis serta lahirnya solusi inovatif berbasis konteks lokal.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung aktif, interaksi lintas budaya terjalin kuat, serta jejaring internasional mulai terbentuk.

Baca Juga: Harga Cabai, Bawang, dan Ayam Naik di Padang, Daya Beli Warga Mulai Tertekan

Ami Sukma Utami berharap program ini dapat menjadi awal kolaborasi jangka panjang, termasuk peluang riset dan pengabdian lintas negara.

Program yang berakhir pada 19 April 2026 ini sekaligus menegaskan posisi Universitas Andalas sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan global.

Melalui kegiatan ini, Unand menunjukkan bahwa pendidikan mampu menjadi jembatan antara teori dan praktik, serta menghubungkan gagasan lokal dengan isu global.(*)

Editor : Hendra Efison
#Summer Course Unand #pembangunan desa #universitas andalas #kesetaraan gender #perubahan iklim