AIATAWA, PADEK.JAWAPOS.COM—Uji balistik kasus peluru nyasar UNP memasuki tahapan penting setelah tim investigasi menggelar pengujian lapangan di Lapangan Tembak Lanud Sutan Sjahrir, Padang, Jumat (5/6/2026).
Pengujian menggunakan Pistol G-2 Combat dengan amunisi kaliber 9 mm produksi PT Pindad jenis 1-TJ itu, bertujuan memperoleh data ilmiah mengenai lintasan dan jarak tempuh proyektil yang diduga terkait insiden di lingkungan Universitas Negeri Padang.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya rekonstruksi kejadian yang menyebabkan dua orang terluka di kawasan depan Gedung Rektorat UNP pada Selasa (2/6/2026) sore.
Tim investigasi menguji berbagai variasi sudut elevasi tembakan untuk mengetahui karakteristik balistik munisi serta potensi capaian maksimumnya.
Baca Juga: BMKG Catat 17 Kali Gempa Bumi di Wilayah PGR VI Selama 29 Mei–4 Juni 2026
Uji Balistik Jadi Dasar Penyusunan Laporan Investigasi
Kapendam XX/Tuanku Imam Bonjol Kolonel Kav Taufiq, S.Sos., M.M menjelaskan hasil pengujian lapangan akan dikorelasikan dengan olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan teknis, serta keterangan para saksi.
"Hasil pengujian ini akan menjadi salah satu bahan utama dalam penyusunan laporan investigasi guna memastikan setiap kesimpulan yang diambil didasarkan pada data faktual, analisis ilmiah, bukti teknis yang valid serta rasa keadilan," kata Taufiq dalam keterangan resminya.
Menurutnya, pemilihan Lapangan Tembak Lanud Sutan Sjahrir dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kelayakan lokasi untuk pelaksanaan pengujian.
Seluruh rangkaian uji balistik berlangsung di bawah pengawasan personel yang memiliki kompetensi di bidang persenjataan dan investigasi teknis.
Baca Juga: Bank Nagari Klarifikasi Temuan BPK: Tegaskan Operasional Sesuai Ketentuan Perbankan
Sementara itu, pihak Kodam berharap masyarakat memberikan ruang kepada tim investigasi untuk bekerja secara profesional hingga seluruh tahapan penyelidikan selesai.
Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar pengambilan keputusan sekaligus evaluasi untuk mencegah kejadian serupa.
Insiden yang menjadi fokus penyelidikan itu mengakibatkan dua korban mengalami luka. Korban pertama, Nova Wirantika (25), mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP, mengalami luka serius pada paha kiri dan sempat menjalani operasi akibat proyektil yang diduga bersarang di tubuhnya.
Korban lainnya, Guruh Guino (23), seorang warga sipil yang sedang menemani kerabatnya di area kampus, mengalami luka pada bagian atas pergelangan tangan dan mendapat perawatan medis lanjutan.
Sekretaris UNP, Prof. Dr. Erianjoni, sebelumnya membenarkan adanya dua korban dalam peristiwa tersebut. "Benar, ada dua orang yang mengalami luka akibat peluru nyasar," ujarnya.
Muncul Dugaan Tujuh Insiden Peluru Nyasar di UNP Sejak 2010
Di tengah proses investigasi, akun Instagram bocoralus.unp mengunggah catatan yang menyebut dugaan insiden peluru nyasar di kawasan UNP sudah terjadi sebanyak tujuh kali dalam rentang 16 tahun.
Berdasarkan unggahan tersebut, kejadian pertama tercatat pada 23 Juni 2010 dan menyebabkan seorang mahasiswa mengalami luka tembak pada bagian leher hingga harus menjalani penjahitan.
Selanjutnya, dugaan peluru nyasar kembali terjadi pada 2017 dan 2018 yang dilaporkan merusak sejumlah properti dan bangunan kampus. Pada 2019, dua kejadian serupa juga disebut merusak fasilitas UNP.
Kemudian, pada 25 Februari 2020, proyektil diduga menembus kaca jendela lantai tiga Gedung LP2M UNP hingga menyebabkan kerusakan.
Sementara insiden terbaru pada 2 Juni 2026 menjadi kasus pertama dalam catatan tersebut yang mengakibatkan dua orang mengalami luka.
Salah seorang civitas akademika UNP berharap ada langkah tegas agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Menurutnya, investigasi berbasis uji balistik menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab insiden sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab.
"UNP harus bersikap tegas. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Harus ada yang bertanggung jawab. Salah satu caranya uji balistik terhadap proyektil. Jika tidak, mungkin di kemudian hari akan ada korban-korban baru yang menimpa civitas akademika," ujarnya.(*)
Editor : Hendra Efison