AIA TAWA, PADEK.JAWAPOS.COM—Universitas Negeri Padang (UNP) kembali mendesak TNI memindahkan lapangan tembak di kawasan Lapai setelah dua orang terluka akibat dugaan peluru nyasar, Selasa (2/6/2026). Pihak kampus mengungkapkan, insiden terbaru itu menambah daftar menjadi tujuh kasus serupa yang terjadi sejak 2016.
Senior Eksekutif UNP, Prof Ganefri, Ph.D, menilai berbagai evaluasi yang pernah dijanjikan aparat militer belum memberikan hasil nyata.
Menurutnya, keberadaan fasilitas latihan yang hanya berjarak sekitar 800 meter dari Gedung Rektorat sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan kawasan pendidikan dan permukiman.
"Saran saya agar hal itu ditinjau ulang oleh pihak TNI dan dipindahkan. Panglima sudah berjanji akan mengevaluasi, tetapi kami khawatir persoalan ini kembali terlupakan," kata Ganefri, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Uji Balistik Peluru Nyasar UNP Digelar, Terungkap Ada 7 Dugaan Insiden dalam 16 Tahun
Korban dalam insiden terbaru adalah seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP dan seorang mantan pemain Semen Padang FC yang sedang mendampingi keluarganya di kampus.
Menurut Ganefri, tujuh kejadian dalam kurun delapan tahun menjadi bukti bahwa persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan pengetatan prosedur latihan.
"Waktu saya menjadi rektor, Danrem juga pernah berjanji meningkatkan sistem keamanan. Namun sampai sekarang kejadian serupa masih berulang. Jangan sampai ada korban meninggal," ujarnya.
Kawasan depan rektorat yang menjadi lokasi insiden merupakan ruang publik yang setiap hari dipadati mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat umum.
Baca Juga: UNP Ungkap Kronologi Peluru Nyasar yang Lukai Mahasiswi dan Eks Kiper Semen Padang FC
Saat kejadian berlangsung, sejumlah mahasiswa sedang merayakan selesainya seminar proposal.
UNP menilai relokasi lapangan tembak menjadi solusi yang perlu dipertimbangkan secara serius untuk menjamin keselamatan sivitas akademika.
Kampus berharap evaluasi yang selama ini dijanjikan dapat segera diwujudkan agar tidak muncul korban berikutnya.(*)
Editor : Hendra Efison