PADEK.JAWAPOS.COM - Mayarakat Indonesia mulai resah dan gelisah. Cemas menatap hari esok. Terutama kelompok rentan secara ekonomi. Harga-harga mulai naik. Setelah harga BBM subsidi naik 18 April 2026 disusul kenaikan gas elpiji 12 kg. Kenaikan pun terkesan ugal-ugalan. Dari Rp 192 ribu menjadi Rp 228 ribu per tabung. Artinya, terjadi kenaikan sebesar Rp 36 ribu atau sekitar 18,75 persen alias hampir 20 persen. Meski menyasar kalangan menengah atas, namun tak tertutup kemungkinan efeknya merembes ke semua sektor.
Konsumen gas elpiji 12 kg pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk beli gas. Terpaksa berhemat untuk kebutuhan lainnya. Bagi kelompok ini harus menambah pengeluaran untuk BBM dan gas elpiji. Cukup dalam kalau dihitung per bulan. Kalau mereka masih bisa bertahan tentu tak masalah. Tapi diyakini bakal ada yang berupaya turun kelas. Beralih ke gas melon 3 kg.
Kalau mereka tak mampu lagi beli gas 12 kg tentu tak bisa dipaksakan. Daya belinya tertekan akibat banyak kenaikan. Termasuk dampak kenaikan plastic yang sudah mengerek kenaikan produk pangan. Saat ini di pasaran harga minyak goreng, gula, bumbu-bumbuan yang dikemas dengan plastic sudah naik. Penjual terpaksa menaikkan harga untuk menghindari kerugian.
Pengusaha juga akan merasakan dampak kenaikan biaya produksi akibat harga LPG 12 kilogram naik. Seperti makanan-minuman, UMKM, dan jasa, yang pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual. Jika produk pangan dan jasa naik, tentu yang menanggung akibatnya semua lapisan masyarakat. Daya beli masyarakat yang sudah tertekan akan menambah beban.
Pedagang kecil dan menengah pun akan mengalami penurunan omzet bahkan merugi karena sepi daya beli. Padahal biaya modal mereka sudah naik, imbas kenaikan plastic, BBM dan gas elpiji 12 kg. Alhasil mereka akan mengurangi produksi dan tenaga kerja. Perusahaan skala menengah pun akan menempuh jalan yang sama. Dampaknya bakal menambah daftar pengangguran. Banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Masalah sosial pun mengancam.
Tentu kenaikan harga energi tak dapat dihindari dampak perang Timur Tengah yang belum tahu kapan akan berakhir. Jika tak dinaikkan sementara harga beli sudah naik jelas menambah beban Negara untuk mensubsidi. Tapi hendaknya telah melalui kajian matang dan memperhitungkan dampaknya. Termasuk akan memicu inflasi pada bulan ini. Walau energy subsidi tak naik tapi kan harga sejumlah bahan pangan sudah naik. Belum terbayangkan jika nantinya tarif listrik juga naik. Listrik nonsubsidi banyak dipakai kalangan rentan. Jika tariff listrik naik bakal hancur-hancuran mereka.
Untuk saat ini yang mesti diwaspadai adalah kelangkaan energi subsidi. Sebagian konsumen bisa saja turun kelas mengambil jatah masyarakat kurang mampu.
Begitu juga gas melon. Bisakah dijamin subsidi tepat sasaran? Kalau selisih harga tidak terlalu tajam mungkin konsumen menengah tak akan pindah. Kalau cukup besar sementara keuangan mereka pas-pasan tak ada jaminan akan tetap bertahan. Pemerintah harus menyiapkan stimulus dan insentif bagi pengusaha terdampak kebijakan. Misalnya insentif pajak dan subdisi gaji seperti saat pandemic Covid-19 dulu. Kalangan rentan miskin mesti jadi perhatian. (*)
Editor : Adriyanto Syafril