Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Awas! Narkoba Menyasar Anak Sekolah

Redaksi • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Peredaran narkoba di Sumbar sudah makin gawat. Semakin diberantas malah kian marak. Pemakai tidak saja kelompok masyarakat tertentu tapi sudah merasuki semua kalangan. Tua muda, kaya miskin hingga anak sekolah jadi sasaran. Tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan.

Baru-baru ini seorang siswi SMK di Kota Payakumbuh kedapatan membawa narkotika jenis ganja ke lingkungan sekolah. Temuan tersebut diketahui saat pihak sekolah melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan siswa. Pihak sekolah menemukan serpihan ganja dalam tas seorang siswa. Selain itu juga ditemukan rokok. Setelah diinterogasi siswi tersebut mengaku hanya ingin mencoba ganja saja. Siswi tersebut adalah seorang perokok. Lantaran bersikap kooperatif dan ganja yang dibawanya tak sampai satu linting pembinaan siswi diserahkan kepada sekolah dan orangtua. Pihak kepolisian juga memberikan kesempatan kepada keluarga untuk melakukan rehabilitasi dan pembinaan secara mandiri terhadap siswi tersebut.

Meski demikian, Satresnarkoba Polres Payakumbuh tetap melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait asal-usul ganja yang ditemukan di dalam tas pelajar tersebut.

Ya, inilah yang harus diselidiki lebih jauh. Bisa jadi pengedar sedang mengincar anak-anak sekolah untuk merusak masa depannya. Bila sudah kecanduan, maka korban akan sulit fokus. Lama-lama merusak sistem saraf otak secara permanen, memicu kecanduan, menghancurkan kesehatan fisik dan menyebabkan gangguan mental. Lebih jauh, penyalahgunaan narkoba merusak masa depan, memicu tindakan kriminal, dan menghancurkan hubungan sosial.  

Secara internal orangtua harus memperhatikan tingkah laku dan pergaulan  anaknya. Biasanya anak yang bermasalah cenderung mudah terpengaruh hal-hal negatif. Mungkin anak mengalami stress, frustasi dan mengalumi tekanan maka berusaha melarikan diri untuk melupakan sejenak masalahnya. Mula-mula mungkin coba-coba merokok dan akhirnya terbiasa. Kemudian mencoba mengisap ganja dan kecanduan. Habis narkoba mungkin coba lagi sabu-sabu dan lainnya. Lalu candu berat dan tak bisa lagi melepaskan diri. Jadilah budak barang haram tersebut. Tak ada uang terpaksa mencuri dan melakukan perbuatan keji lainnya. Sekolah jadi berantakan masa depan suram.

Celakanya, oleh pengedar, pemakai dijadikan kaki tangan untuk mengedarkan barang haram itu. Sehingga dari coba-coba jadi pemakai dan pengedar. Hingga tahap ini satu kaki berada di penjara kalau tertangkap. Tentu orangtua bergidik membayangkan anaknya jika sampai jatuh ke jurang narkoba dan jadi budak barang haram tersebut. Pihak sekolah pun tak bisa lepas tangan. Guna mencegah peserta didik terjerumus harus dilakukan upaya preventif dan persuasive. Lakukan secara rutin pemeriksaan tas siswa. Termasuk tes urine secara berkala.

Nah, program polisi masuk sekolah untuk mengedukasi siswa seputar bahaya narkoba masih relevan terus dilanjutkan. Dan yang paling penting adalah memberantas dan memutus mata rantai peredaran narkoba di negeri ini. Sanggupkah pihak kepolisian berkomitmen akan menindak semua pelaku termasuk aparat kalau ada yang terlibat? Desas-desus keterlibatan aparat dalam peredaran narkoba masih santer kedengarannya. Publik tentu belum lupa kasus mantan Kapolda Sumbar Teddy Minahasa. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana #narkoba