Mati listrik secara tiba-tiba pada Jumat (22/5) dan berlanjut Sabtu (23/5) selama berjam-jam sempat menimbulkan kepanikan masyarakat. Tak ada angin tak ada hujan, tetiba lampu mati. Bayangkan sedang asyik-asyik mengetik di komputer dan lupa men-save, dalam satu detik jadi hilang. Kesal, jengkel sudah pasti. Pada saat bersamaan, semua perangkat yang memakai arus listrik pun down. Suasana malam langsung jadi gelap gulita.
Tak menunggu lama, heboh lampu mati di media sosial. Tentunya masyarakat menyayangkan tak ada pengumuman akan ada mati lampu sebelumnya. Sehingga tidak ada persiapan sama sekali. Banyak masyarakat tidak menyimpan lilin dan punya lampu emergency. Hanya tempat usaha, kantor dan beberapa rumah yang terang benderang karena punya genset pribadi.
Karena sudah tak biasa gelap gulita, warga seperti cacing kepanasan. Tak sabar menunggu. Apalagi HP sudah lowbat, tak ada lagi yang bisa diperbuat. Seperti orang kehilangan pegangan. “Teman akrab” tak bisa lagi menemani. Akhirnya plongok-plongok tak tau juntrungan. Begitulah gambaran manusia zaman kini yang saban waktu lengket dengan gadget. Terlalu lama di dunia maya jadi canggung saat berada di alam nyata.
Bagi masyarakat urban yang terbiasa ber-AC di rumah maupun kantor, jadi kepanasan. Suasana adem dan nyaman seketika berubah menjad gerah. Ruangan yang bergantung pada penerangan listrik pun jadi gelap gulita. Lengkap sudah “penderitaan” walau hanya sementara. Begitu tergantungnya manusia sekarang pada listrik, sangat tidak nyaman kalau mati lama-lama.
Terhentinya aliran listrik beberapa jam menyebab kan sejumlah usaha yang bergantung pada listrik juga pudur. Misalnya, usaha laundry, air isi ulang, foto copy, tukang cukur listrik, penjual santan kelapa dan lainnya. Jika mati lampu sampai 5 jam berarti selama itu pula mereka tak bisa beroperasi. Rugi? Jelas.
Tentu pelanggan tidak terima dan apa alasan listik mati mendadak. Pelanggan adalah raja. Sementara itu, pihak PLN tentu tak tinggal diam. Mencari sebab kenapa listik mendadak padam. Rupanya dipicu kondisi alam. Cuaca eksterm, angin kencang, hujan lebat disertai petir. Salah satu menara transmisi bertegangan tinggi tinggi 275 kilovolt (kV) yang berada di wilayah Muara Bungo, Provinsi Jambi kabarnya disambar petir. Gangguan pada jaringan tersebut berdampak terhadap sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera sehingga memicu terjadinya trip pada sistem.
Selama dua hari petugas berjibaku bekerja siang malam melakukan pemulihan. Sehingga Minggu kondisi dikatakan sudah pulih 100 persen. Pihak PLN pun menjamin tidak ada lagi pemadaman setelah itu. Selesaikah masalahnya? Tentu PLN mesti belajar dari kejadian ini kenapa menara sekokoh dan seurgen itu bisa disambar petir. Perlu ditingkatkan sistem keamanannya agar tidak terulang. Kemudian, kerugian pelanggan selama listrik pada hendaknya diberi konpensasi. Misalnya, diskon tagihan di bulan Mei. Jangan sampai, listrik mati berjam-jam tagihan sama seperti biasanya atau malah naik. (*)
Editor : Adriyanto Syafril