Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gelap Sumatera dan Rapuhnya Jaringan Energi

Redaksi • Kamis, 28 Mei 2026 | 09:05 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Blackout bukan sekadar padamnya listrik, tetapi juga putusnya nafkah. Mesin-mesin berhenti. Kulkas mati. Jaringan internet lumpuh. Kasir tak berfungsi. Dalam hitungan menit, denyut ekonomi rakyat kecil mandek.

Karena itu, gangguan sistem kelistrikan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5) lalu tidak boleh dianggap sekadar insiden teknis. Terlebih, Sumatera merupakan salah satu tulang punggung ekonomi nasional.

Bareskrim Polri bersama PT PLN (Persero) memang telah menyampaikan hasil investigasi awal. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem.

Tidak ditemukan indikasi sabotase maupun unsur kesengajaan.

Penjelasan itu penting untuk meredam spekulasi liar di tengah masyarakat. Negara perlu memastikan bahwa sistem vital nasional tidak sedang disusupi tangan-tangan perusak.

Namun, terbuka pertanyaan: mengapa sistem kelistrikan sebesar Sumatera masih begitu rapuh menghadapi gangguan cuaca?

Cuaca ekstrem memang makin sering terjadi akibat perubahan iklim global. Tetapi, justru karena ancaman itu makin mudah diprediksi, negara seharusnya membangun sistem mitigasi yang jauh lebih tangguh.

Publik berhak mempertanyakan kesiapan PLN dalam membangun sistem cadangan, pengamanan jaringan transmisi, hingga kecepatan pemulihan ketika krisis terjadi. Sebab, masyarakat membayar listrik bukan hanya untuk memperoleh energi, melainkan juga mendapat kepastian layanan.

Yang lebih mengkhawatirkan, blackout semacam itu memperlihatkan betapa sentralistis dan rentannya sistem energi nasional. Ketika satu titik terganggu, dampaknya menjalar luas seperti domino. Ini menunjukkan pembangunan ketahanan energi kita masih terlalu bertumpu pada skema besar yang kurang lentur menghadapi krisis.

Padahal, negara-negara maju mulai bergerak menuju sistem energi yang lebih terdesentralisasi. Mereka memperluas energi terbarukan dan membangun cadangan listrik lokal untuk layanan publik vital. Indonesia, tampaknya, masih berkutat pada pola lama: memperbesar pasokan, tetapi belum cukup serius memperkuat ketahanan.

 


Blackout Sumatera seharusnya menjadi alarm keras. Modernisasi sistem transmisi dan distribusi listrik tak bisa lagi ditunda. Infrastruktur energi tidak cukup hanya dibangun dengan megah. Ia juga harus tahan banting. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana #blackout Sumatera