Geram dengan karut-marutnya kondisi pemerintah saat ini, mahasiswa kembali turun ke jalan. Kenaikan harga Pertamax memantik reaksi dari berbagai kampus. Padahal kondisi ekonomi masyarakat sudah sulit ditambah lagi. Di awali aksi mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) menggelar aksi penyampaian aspirasi di gerbang perbatasan Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Selatan, Rabu malam (10/6).
Lalu, di Surabaya, ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menggelar aksi pernyataan sikap di Bundaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair Kamis (11/6). Isu yang disorot, antara lain, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya hidup, melemahnya daya beli, hingga menyempitnya lapangan pekerjaan. Aksi yang diikuti 100–150 mahasiswa tersebut melibatkan BEM Unair, BEM FEB Unair, BEM fakultas se-Unair, serta sejumlah elemen mahasiswa dari kampus lain.
Berlanjut aksi BEM UI Jumat (12/6) hendak ke Bundaran HI. Seremnya BEM UI membawa tema Menuju Indonesia Bangkrut. BEM UI melihat sejumlah sektor fiskal, moneter, dan pasar modal di Indonesia, sedang menuju ke krisis ekonomi.Tapi diblokade, daripada bentrok, mahasiswa mengalah. Sampai malam mereka tetap tak bisa masuk ke bundaran HI. Memilih longmarch sambil mengusung tuntutan. Ada 5 tuntutan mahasisa UI.
Yakni,menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Lalu mereka juga meminta hentikan militerisme di ranah sipil dan mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.
Apakah tuntutan mahasiswa ini bakal direspons pemerintah? Kita tunggu saja. Mudah-mudahan elite negeri ini tersentuh hatinya. Tidak menganggap angin lalu saja aksi mahasiswa yang notabene kaum intelektual penerus bangsa ini. Kalau di zaman kepemimpian Presiden SBY dulu, pernah membatalkan kenaikan BBM karena diprotes masyarakat. SBY tidak keras hati tapi peduli pada penderitaan rakyatnya. Zaman Soeharto, demo mahasiswa bisa melengserkan presiden.
Namun ketika Jokowi jadi presiden aksi mahasiswa dianggap melawan pemerintah. Boro-boro ditanggapi malah dapat tindakan kekerasan aparat. Banyak sudah mahasiswa yang jadi korban. Jangan tambah lagi.
Lalu era Prabowo? Masih ingat kasus driver ojol yang tergilas mobil polisi? Kabarnya banyak juga yang ditangkap. Jangan sampai demo sekarang menambah panjang daftar korban. Mengemukakan pendapat bagian dari demokrasi. Kalau ada rakyat mengkritik tentu ada alasannya. Ada yang tidak beres. Kalau dibiarkan tentu tidak baik bagi bangsa ini. Tidak hanya gelap tapi bisa-bisa juga bangkrut. Korupsi merajalela. Anggaran MBG dikorupsi ugal-ugalan. Itu baru satu contoh. Kalau tidak ada pengawalan dari rakyat tentu tidak akan terbendung. Bergerak bak bola liar saja. (*)
Editor : Adriyanto Syafril