Saat rakyat tertekan imbas kenaikan BBM, tetiba harga minyak dunia turun. Harga minyak mentah dunia anjlok ke kisaran US$ 76 hingga US$ 78 per barel. Dipicu meredanya ketegangan geopolitik menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kemudian membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Minyak mentah Brent turun hingga menyentuh US$ 76 - US$ 78 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) berada di kisaran US$ 76 per barel. Harga ini anjlok drastis setelah sempat meroket akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Jelas ini angin segar bagi negara yang bergantung kepada ekspor minyak dari Timur Tengah. Termasuk Indonesia tentunya. Walau kesepakatan damai batal namun selat Hormuz tetap dibuka. Sementara gejolak harga minyak pun mereda.
Dampak perang, pemerintah sudah dua kali menaikkan BBM nonsubsidi. Pertengah April 2026 Pertamina menaikkan Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Lalu, Rabu 10 Juni 2026, secara diam-diam dua jenis BBM nonsubsidi yang banyak dipakai kalangan menengah yang naik ugal-ugalan. Mencapai 30 persen. Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kelas menengah dibuat terpurangah. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk BBM. Sebagian beralih ke BBM subsidi pertalite yang masih Rp 10 ribu per liter.
Keuangan masyarakat menengah ke bawah hancur-hancuran dampak perang. Awalnya kenaikan harga plastik memicu naiknya barang-barang yang berbahan baku plastik dan berkemasan plastik. Salah satunya minyak goreng. Selain itu, bahan bangunan, perabotan dan lainnya. UMKM dan pedagang kecil pun kewalahan. Sebab plastik komponen penting yang tak bisa digantikan.
Belum lagi terpecahkan masalahnya, menyuusul kenaikan harga produk pabrikan. Kenaikan BBM industri mendorong naiknya biasa produksi dan distribusi barang hingga berdampak kepada naiknya harga produk. Alhasil, hampir semua barang naik harganya. Masyarakat ekonomi rentan pun harus mengencangkan lagi ikat pinggang. Hanya belanja sesuai kebutuhan saja. Hidup jadi superhemat. Karena biaya hidup naik penghasilan tetap alias tidak naik. Banyak rumah tangga yang pusing tujuh keliling mengatur keuangan rumah tangga.
Di tengah kondisi tersebut, kabar baik pun datang. Mungkin doa masyarakat dikabulkan Tuhan. Perang mereda. Yang jelas harga minyak turun. Logikanya jika minyak dunia turun, BBM pun mesti disesuaikan lagi. Tidak fair dong kalau tetap dengan harga yang baru.
Kementerian ESDM mengatakan, harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga berpeluang disesuaikan turun jika harga minyak mentah global terus berada di level rendah. Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam pun mendorong pemerintah segera mengevaluasi harga BBM menyusul penurunan harga minyak dunia sekitar empat persen.Menurutnya, masyarakat berhak memperoleh manfaat ketika situasi global yang sebelumnya menekan harga energi mulai menunjukkan perbaikan.
Kita tunggu saja, pemerintah kembali menurunkan harga BBM nonsubsidi. Mudah-mudahan segera direalisasikan. Jika BBM turun lagi harusnya harga barang dan jasa kembali turun. Terkadang ini yang susah. Pengusaha enggan menurunkan harga dengan berbagai alasan. Kalau pun diturunkan tidak sama lagi saat sebelum naik harga. Tapi mudah-mudahan saja kekhawatiran tersebut tidak terjadi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril