Dalil itu disampaikan oleh anggota DPR RI Darul Siska saat pertemuan rutin Majelis Taklim Indonesia (MTI) Koto Tangah pada Minggu (27/11) di Masjid Raya Kototangah, Balaigadang.
Pada kesempatan itu Darul Siska mengungkapkan bahwa majelis seperti ini adalah backbone-nya umat Islam untuk ke depannya bisa mendidik anak yang berakhlak baik.
Ia menyebut, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di dunia. Namun ternyata Indonesia masuk ke dalam urutan ke 113 indeks city saat dilakukan survei kota yang bisa disebut sebagai kota ataupun negara Islami.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Indonesia dengan jumlah penduduk Islam terbanyak malah berada di urutan 113 sedangkan yang menjadi urutan teratas diemban oleh New Zeland, Jepang, Kanada, Denmark dan lainnya,” ujar Darul saat menjadi salah satu pembicara pada kegiatan MTI Kototangah.
Ternyata kata Darul, kota atau negara islami itu tak dilihat dari jumlah penduduknya yang beragama Islam, tapi lebih dilihat dari akhlak dan kualitas orang-orangnya. Darul menilai SDM di Indonesia kualitasnya masih sangat rendah.
Sebab itu, perlu pemulihan yang harus dilakukan dari hulu, bukan di hilirnya. Yakni dengan memberi pengajaran, ilmu dan juga gizi sejak anak masih dalam kandungan karena akhlak anak, kecerdasan anak bergantung pada perkembangannya sejak dini.
“Semua ada pada ibu. Ibulah yang bisa menentukan kualitas Islam dan negara bisa lebih baik ke depan atau tidak,” sambung dia.
Bahkan sedari dulu Allah sudah mengingatkan mengenai hal ini pada umatnya. Namun barulah saat ini masyarakat sadar akan perngaruh anak kurang gizi atau stunting yang bisa mempengaruhi semua perkembangan anak.
“Stunting ini sangat berpengaruh pada kualitas anak karena perkembangannya baik fisik, mental, kecerdasan, semuanya akan terhambat. Bagaimana bisa memajukan bangsa bila anak kita stunting,” lanjutnya.
Di Indonsia, 24,4 dari 100 persen anak yang lahir setiap tahunnya berpotensi mengalami stunting. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari pemenuhan gizi saat hamil dan setelah melahirkan yang tak tercukupi, lingkungan yang tak sehat seperti air tak bersih yang menyebabkan anak sering sakit sejak kecil, lingkungan sosial yang tak memadai serta kondisi psikologis ibu yang tak stabil hingga anak menjadi korban.
“Banyak ibu yang tak bisa memberikan ASI karena depresi. Misalnya dia baru ditinggal sang ibu, lalu ayahnya menikah lagi dan suamipun tak memiliki perkerjaan tetap. Akhirnya anak tak bisa mendapatkan ASI karena ASI tidak keluar akibat stres,” imbuhnya.
Banyak masyarakat yang masih menganggap anak stunting adalah sebuah aib di keluarga. Makanya tak jarang juga mereka takut memeriksakan anak ke posyandu dan puskesmas karena malu akan ditertawakan orang lain. Padahal lebih cepat penanganan, akan lebih baik.
Menurut Darul Siska jika ini terjadi maka hal ini menjadi tanggung jawab semua orang. Bukan lagi dari orang tua saja, tak juga hanya tanggung jawab pemerintah tapi lebih ke tanggung jawab semua orang termasuk orang-orang yang berada di lingkungannya.
“Jangan sampai ada anak stunting di lingkungan kita. Kalau mendengar atau melihat ada potensi itu, segeralah lapor dan gerak cepat, karena ini akan menjadi beban ke depannya. Sang anak tidak bisa berbauat apapun. Jangan sampai ini membuat malu umat Islam karena kita mayoritas penduduk Islam,” ungkapnya.
Untuk itu, katanya perlu orangtua untuk mampu secara fisik, mental dan finansial sebelum memiliki anak bahkan sebelum memutuskan untuk menikah. Ibu yang bahagia saat hamil, akan melahirkan anak yang cerdas.
“Pola asuh harus baik, berikan ASI pada anak dan juga berikan imunisasi lengkap untuk menghindari virus-virus yang dapat menghambat pertumbuhan anak. Ingat, pencegahan anak stunting hanya bisa dilakukan saat anak berusia di bawah 2 tahun,” ucap dia.
Banyak yang akan terjadi di kemudian hari jika anak terindikasi stunting sejak dini. Dewasanya bisa saja menjadi pemalas dan tak mampu bersaing dengan anak lain karena kecerdasan yang terbatas. “Dia saja tak bisa menghidupi dirinya sendiri, bagaimana bisa mengurus oran lain nantinya bahkan juga negara,” tuturnya.
“Saat ini, kita butuh generasi yang berkualitas dan cerdas untuk membangun negara lebih baik ke depannya. Semua bisa didapatkan bila ibu bisa memberikan gizi dan pengajaran berbasis Islam sejak dini,” tukasnya. (cr7) Editor : Novitri Selvia