PADEK.JAWAPOS.COM-Hampir setahun berlalu sejak bencana galodo melanda, namun kondisi Jembatan Manunggal yang berada di Dusun Tuo, Nagari Limakaum, Kecamatan Limakaum, Kabupaten Tanahdatar, masih memprihatinkan.
Tidak hanya belum tersentuh perbaikan berarti, jembatan ini kini berubah menjadi jalur ekstrem yang membahayakan pengguna jalan setiap hari. Jembatan yang terdampak parah akibat galodo pada Mei 2024 itu kini hanya dapat dilalui satu arah.
Ruas jalannya menyempit, permukaannya dipenuhi pasir, kerikil, dan debu. Akibatnya, kendaraan harus bergantian melintas, sering menimbulkan kemacetan, terutama di jam-jam sibuk.
Lebih dari itu, kondisi pengaman jembatan membuat bulu kuduk merinding. Pagar pembatas hanya terbuat dari kayu rapuh, dengan tinggi jembatan mencapai sekitar 10 meter di atas permukaan sungai. Tidak ada rambu peringatan ataupun marka lalu lintas yang jelas.
Arus kendaraan sepenuhnya diatur secara swadaya oleh warga setempat. “Seperti jembatan Sidratul Muntaha,” ujar Herlina, 30, salah seorang warga sekitar, Senin (21/4).
Ucapannya menggambarkan betapa menakutkannya melintasi jembatan itu setiap hari. Ia menyebut belum ada tanda-tanda perbaikan ataupun komunikasi resmi dari pihak berwenang.
Herlina juga menyoroti dampak sosial dari kondisi tersebut. Jembatan Manunggal merupakan akses utama menuju masjid di kawasan itu. “Bagi jemaah yang berjalan kaki, menyeberang jadi tantangan. Sedangkan yang membawa kendaraan kesulitan keluar masuk area parkir,” tambahnya.
Kondisi bertambah parah saat hujan. Permukaan yang licin dan berkerikil sering menyebabkan kecelakaan tunggal. “Hampir setiap pekan ada pengendara yang jatuh, kebanyakan menabrak pembatas di tengah,” ujar Herlina.
Situasi semakin tidak terkendali ketika pengguna jalan saling memaksa untuk melaju lebih dulu. “Kalau sudah saling ngotot, kemacetan bisa mengular panjang,” keluhnya.
Elvira, salah seorang pengendara roda dua, menyebut jembatan itu sangat menyulitkan, terutama pada malam hari. “Pencahayaan memang ada, tapi tetap saja tidak cukup. Apalagi kalau hujan, jalanan makin berbahaya,” ujarnya. (r)
Editor : Novitri Selvia