Jalan sepanjang sekitar 17 kilometer tersebut mengalami kerusakan parah di sejumlah titik, sehingga menyulitkan pengendara dan memperlambat arus lalu lintas yang cukup padat.
Pantauan Padang Ekspres, Minggu (15/6) memperlihatkan kerusakan terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari jalan berlubang, bergelombang, hingga penurunan permukaan badan jalan di beberapa lokasi.
Salah satu titik terparah terletak di Jorong Panti, Nagari Rambatan, Kecamatan Rambatan, yang diketahui terdampak bencana galodo (banjir bandang) beberapa waktu lalu.
Di titik tersebut, badan jalan tidak lagi rata, penuh lubang dalam berbagai ukuran yang bahkan nyaris menutupi seluruh lebar jalan.
Genangan air dan lumpur muncul saat hujan, sementara debu tebal menyelimuti jalan saat panas, menambah kesulitan pengguna jalan.
“Kalau hujan, kondisi jalan dipenuhi genangan air dan lumpur, kalau panas kondisinya berdebu. Hal ini tentu menyulitkan pengguna jalan,” ujar Fajar, seorang pengendara sepeda motor yang melintasi kawasan itu.
Ia menyebutkan, kerusakan jalan sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum bencana galodo menghantam kawasan tersebut. Galodo hanya memperparah situasi yang memang sudah tidak layak.
“Posisi jalan ini cukup penting menurut saya, karena menghubungkan Batusangkar dengan Singkarak, bahkan menjadi rute perjalanan ke provinsi lain. Bus dan truk besar sering lewat sini. Jadi perlu perhatian lebih,” tegas Fajar.
Selain volume kendaraan pribadi, ruas ini juga dilintasi oleh truk besar dan bus antarprovinsi, mengingat lokasinya yang tidak jauh dari Terminal Piliang Dobok. Arus kendaraan yang padat menyebabkan antrean panjang, terlebih karena sebagian ruas hanya bisa dilalui satu arah.
Tak hanya di Jorong Panti, kondisi serupa juga ditemukan di kawasan lain dalam jalur yang sama, salah satunya di Kelok Bancah, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan.
Medan yang berkelok dan menanjak dari arah Batusangkar menuju Ombilin diperparah oleh lubang-lubang di permukaan jalan serta debu yang tebal.
“Harus ekstra hati-hati saat melintasi jalan itu. Kalau dari arah Ombilin, jalannya menurun dan menikung tajam, ditambah lagi dengan kondisi aspal yang rusak,” ungkap Firdaus, seorang pengemudi ojek yang sering melintasi jalur tersebut.
Firdaus menambahkan, jalan ini sangat vital bagi masyarakat yang setiap hari beraktivitas, baik untuk bekerja, berdagang, maupun mengangkut hasil pertanian. Ia menyayangkan belum adanya penanganan serius dari pihak terkait.
“Pengaruhnya tentu banyak. Masyarakat tidak hanya sekadar lewat, tapi juga membawa hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Singkarak juga kawasan wisata, tentu akan lebih baik kalau jalan ini diperbaiki. Apalagi kendaraan dari luar provinsi juga lewat sini. Jadi menurut saya sudah seharusnya jalan ini segera diperbaiki,” tutupnya.
Kerusakan di ruas jalan Batusangkar–Ombilin ini menjadi perhatian serius, mengingat jalur ini menjadi penghubung strategis antara Tanahdatar dan wilayah lainnya, baik di dalam maupun luar Sumatera Barat. (rna)
Editor : Adetio Purtama