PADEK.JAWAPOS.COM— Wisata Banda Dareh di Jorong Badinah Murni, Nagari Minangkabau, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanahdatar, memiliki konsep sosial dalam pengelolaannya melalui Investasi Jalan Allah (IJA). Sebagian pendapatan bersih operasional wisata disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan di nagari tersebut.
Konsep IJA menjadi salah satu bagian dari pengelolaan Banda Dareh. Pendapatan yang diperoleh dari operasional wisata tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pengelolaan, tetapi sebagian disisihkan untuk membantu masyarakat.
Penyaluran tersebut mencakup bantuan bagi anak yatim dan lansia. Selain itu, dana juga digunakan untuk mendukung perbaikan sarana umum di nagari.
Melalui konsep tersebut, keberadaan Banda Dareh tidak hanya diarahkan sebagai tempat wisata, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Wisata yang Berbagi
Investasi Jalan Allah menjadi salah satu bentuk kepedulian pengelola terhadap masyarakat Nagari Minangkabau. Sebagian pendapatan bersih operasional yang disalurkan kembali menjadi sumber bantuan bagi warga yang membutuhkan.
Konsep ini berjalan di tengah aktivitas wisata yang terus berkembang sejak Banda Dareh mulai beroperasi dan ramai dikunjungi pada 2025.
Sebelumnya, kawasan tersebut merupakan alur bandar yang dimanfaatkan untuk budi daya ikan pada 2022 hingga 2024. Setelah dikembangkan menjadi kawasan wisata, Banda Dareh tidak hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi juga memiliki pengelolaan yang memasukkan manfaat sosial sebagai bagian dari kegiatannya.
Ketua Wisata Banda Dareh, Asri A atau akrab disapa Riki, mengatakan tujuan pengelolaan wisata sejak awal tidak hanya berorientasi pada pendapatan.
"Alhamdulillah dengan adanya Wisata Banda Dareh ini, sudah mulai ngurangi angka pengangguran yang ada di nagari kami. Kita berharap sebagai orang yang dituakan selangkah di sini, dapat membuka lapangan kerja sebanyak mungkin untuk masyarakat yang membutuhkan kerja di sini," ujar Riki saat ditemui di lokasi wisata, Kamis (21/8/2026).
Menurut Riki, pengelola tidak menjadikan besarnya kas atau target pendapatan sebagai ukuran utama keberhasilan Banda Dareh. Yang lebih penting adalah usaha tersebut tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kita tidak butuh banyak kas ataupun pendapatan, target misalkan dalam tiga bulan harus mendapatkan 30-50 juta bukan itu. Yang penting bagi kita sudah banyak orang kerja di sini meskipun hasilnya baru cukup untuk memenuhi keperluan operasional serta membayar gaji para yang bekerja gak masalah," katanya.
Riki menegaskan prinsip tersebut sejalan dengan tujuan awal pengelolaan Banda Dareh.
"Soalnya dasar kita membuka usaha, untuk membuka lapangan pekerjaan, memanusiakan manusia dan kita tidak lari dari tujuan awal," ujarnya.
Manfaat untuk Nagari
Penerapan IJA menjadi bagian dari upaya pengelola agar perkembangan wisata juga memberikan manfaat sosial. Bantuan untuk anak yatim, lansia, dan sarana umum menjadi bentuk penyaluran yang dilakukan dari sebagian pendapatan bersih operasional.
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari tujuan pengelolaan wisata. Ketika Banda Dareh berkembang sebagai destinasi, manfaat yang dihasilkan juga diarahkan kembali kepada lingkungan sosial di Nagari Minangkabau.
Selain melalui IJA, manfaat keberadaan Banda Dareh juga terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam kegiatan wisata. Warga setempat mendapatkan kesempatan bekerja dalam operasional kawasan.
Namun, IJA memiliki bentuk manfaat yang berbeda karena ditujukan kepada masyarakat yang membutuhkan dan kebutuhan sarana umum nagari.
Banda Dareh kini tumbuh sebagai destinasi wisata yang menggabungkan aktivitas ekonomi dengan kepedulian sosial. Melalui Investasi Jalan Allah, sebagian pendapatan bersih operasional disalurkan kembali untuk membantu masyarakat dan mendukung kebutuhan nagari.
Konsep tersebut menjadi bagian dari cara pengelola mempertahankan tujuan awal Banda Dareh agar keberadaan wisata tidak hanya memberikan manfaat bagi usaha, tetapi juga bagi masyarakat di sekitarnya.(*)
Editor : Hendra Efison