Kekhawatiran tidak hanya menyelimuti perasaan pemilik keramba jaring apung (KJA), namun warga yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Batang Antokan juga digerogoti rasa gelisah.
Jika pemilik keramba atau pembudidaya ikan keramba khawatir akan tak kunjung berakhirnya musibah kematian ikan itu, lain halnya dengan warga di sepanjang aliran Batang Antokan. Mereka justru khawatir akan datangnya angin darat yang dapat membuat air Batang Antokan lebih cepat mengalirkan bau tak sedap dari bangkai ikan.
Johan, 30, warga Garagahan, Kecamatan Lubukbasung mengatakan, sungai Batang Antokan berhulu di danau Maninjau. Sungai mengalir dari Muko-muko melintasi wilayah Siguhung, Lubuksao, Lubukbasung-Garaghan, Manggopoh hingga bermuara ke aliran Batang Masang di Tiku.
“Tentu seperti yang sudah-sudah, musibah kematian ikan itu akan berdampak pada kami yang tinggal di bantaran sungai ini. Dampaknya, air danau yang mengalir melalui Batang Antokan kini sudah tidak bisa dikonsumsi lagi,” kata Johan, Senin (21/11).
Menurutnya, sungai Batang Antokan merupakan sumber air utama warga di sepanjang aliran sungai. Meski demikian, warga sudah lama tidak lagi memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan konsumsi. Namun, sebagian warga masih memanfaatkan air sungai tersebut untuk mandi.
Biasanya lanjut Johan, air sungai itu akan mulai berbau amis setelah dua atau tiga hari pasca-kematian ikan di danau Maninjau. Pencemaran itu juga membuat air menjadi lebih berminyak dan dapat menimbulkan berbagai penyakit kulit.
“Saat ini, air sungai sudah sedikit berbau amis. Namun, karena sungai ini sumber air utama warga, mau tak mau masih ada yang memanfaatkannya untuk mandi,” ucap Johan.
Berbeda dengan warga yang tinggal di bagian hilir sungai yang baru mencium sedikit bau amis, warga di salingka danau sudah diselimuti bau busuk menyengat yang berasal dari bangkai ikan dalam dua hari terakhir. Aroma udara tak sedap ini lebih pekat terasa di titik-titik nagari yang terdampak kematian ikan.
“Bangkai ikan masih berada di lokasi-lokasi yang terdampak musibah di Nagari Sungaibatang, Tanjungsani dan Kotomalintang. Belum ada yang berubah, bangkai ikan belum mengurai dan masih mengapung di permukaan danau,” kata Darul, warga Muko-muko, Nagari Kotomalintang.
Ia berharap, dalam beberapa hari ke depan tidak datang angin darat. Agar bangkai ikan itu tidak beranjak dari tempat matinya hingga akhirnya mengurai dengan sendirinya. Dijelaskannya, angin darat merupakan jenis angin yang berembus dari daratan menuju laut.
Jika jenis angin ini datang maka wilayahnya akan menjadi terminal dari bangkai-bangkai ikan tersebut, sebab Muko-muko merupakan muara danau. “Jika angin darat datang, maka bangkai-bangkai ikan baik di Tanjungsani dan Sungaibatang akan tersapu angin ke muara danau (Muko-muko, red). Tentu, bangkai-bangkai itu akan menumpuk di sini,” katanya.
Jika demikian lanjutnya, maka warga di Muko-muko akan menjadi paling menderita menghirup bau busuk bangkai ikan itu. Terlebih, bangkai ikan tidak bisa lagi mengalir melalui sungai Batang Antokan sebab tertutup pintu intake PLTA Maninjau.
Senada, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam Rosva Deswira mengaku, warga yang tinggal di sepanjang aliran Batang Antokan juga bakal menderita akan bau bangkai ikan yang mati di danau Maninjau. Pengaruh angin darat akan mempercepat mengalirnya penderitaan itu.
“Saat ini, bau tak sedap masih ada di seputaran danau. Kita berharap agar angin darat tidak menghalau ikan ke muara danau agar bau itu tidak cepat mengalir ke sungai Antokan,” kata Rosva sembari mengaku saluran air PDAM di rumahnya juga berasal dari Batang Antokan. (ptr) Editor : Novitri Selvia