Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Turun 2 Persen Bukan Tolak Ukur Goyah, Geliat Ekspor Sumbar di Tahun 2022

Novitri Selvia • Jumat, 16 Desember 2022 | 09:58 WIB
Photo
Photo
Perang Rusia-Ukraina terjadi sekitar 9.000 kilometer lebih dari Indonesia. Tapi, efeknya terasa ke tanah air. Di Sumbar misalnya, terjadi penurunan nilai ekspor.

Berdasarkan data Budan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, ekspor di Sumbar pada Januari-Oktober 2022 secara kumulatif mengalami penurunan 2,06 persen dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar Asben Hendri, selain karena perang Rusia-Ukraina, turunnya ekspor Sumbar juga karena krisis pangan di Eropa.

“Saat ini banyak negara mengalami krisis pangan dan membuat daya ekspor kita sedikit menurun dari sebelumnya. Pengurangan belanja negara-negara tujuan ekspor mengakibatkan daya ekspor produk asli Sumbar menjadi tuurun,” tuturnya, pekan lalu.

Per Oktober 2022 nilai ekspor Sumbar berada diangka USD 2.492,04. Sedangkan pada 2021 ekspor Sumbar berada diangka USD 2.544,57. Meski hanya turun dua persen, Asben Hendri mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar tetap memberi perhatian dan dukungan untuk bisa kembali meningkat.

“Kita tetap terus berusaha untuk mencari alternatif seperti menggapai pasar-pasar ekspor baru yang potensial sehingga ekspor di Sumbar dapat terus maju kedepannya,” terangnya.

Komoditas ekspor Sumbar ke pasar global seperti lemak dan minyak hewan atau nabati, berbagai produk kimia, karet dan barang dari karet, bahan-bahan nabati, bahan bakar mineral, sari bahan samak dan celup, kopi, teh dan rempah, buah-buahan, minyak atsiri dan kosmetik wangi-wangian, lalu garam, belerang, serta kapur.

Asben mengatakan, lemak dan minyak hewan atau nabati masih menjadi salah satu primadona utama ekspor yang ada di Sumbar. Salah satu contohnya yang besar di Sumbar seperti minyak kelapa sawit yang menjadi salah satu komoditas yang paling diminati di pasaran.

Namun demikian, Pemprov Sumbar tidak akan berfokus kepada satu komoditas saja dan akan berusaha meningkatkan komuditas ekspor lainnya. Untuk meningkatkan seluruh komoditas ekspor di Sumbar, pemprov pun akan berusaha mendorong pasar tradisional agar terus bergerak dan tentunya juga melihat kondisi perekonomian global yang harapkan Asben akan membaik pada tahun 2023.

“Jika perekonomian global sudah mulai membaik kita tentunya mengharapkan agar permintaan terhadap komoditas produk ekspor Sumbar juga semakin meningkat kedepannya. Apabila menemui hambatan kita akan lansung berkoordinasi dengan kementrian dan OPD teknis untuk mendorong peningkatan komuditas ekspor di Sumbar,” ucapnya.

Asben menegaskan, demi meningkatkan ekspor di Sumbar ia mengimbau agar para pemilik komoditas ekspor untuk terus meningkatkan kualitas. Apalagi saat ini banyak daerah dan negara lain juga menjual produk yang serupa dengan komoditas Ekspor di Sumbar.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Kadin Sumbar Buchari Bachter. Menurutnya, kondisi dunia yang sedang dalam krisis menyebabkan menurunnya nilai ekspor Sumbar. “Meski ada penurunan yang diakibatkan dampak Covid-19 dan lainnya, kondisi ekspor kita masih terbilang cukup bagus,” ucapnya.

Meski demikian ia mengatakan, Pemprov Sumbar perlu terus mendorong komoditas ekspor agar dapat bersaing dan bertahan di pasar global. Peningkatan kualitas produksi juga diperlukan sehingga produk Sumbar dapat dilirik oleh negara-negara lain.

“Untuk mewujudkan hal tersebut butuh kolaborasi dan sinergitas antara pemegang kekuasaan dengan para pengusaha ekspor di Sumbar. Bagaimana produksi komoditi baik dari segi kualitas dan kuantitas. Tidak hanya itu peran aktif dari pemprov dibutuhkan untuk menemukan para pembeli baru,” ungkapnya.

Untuk ia berharap usaha maksimal dari semua pihak harus bisa dioptimalkan oleh Pemprov Sumbar agar kedepannya ekspor komoditas sumbar dapat berkembang terus setiap tahunnya.

Pengamat ekonomi Harif Amali mengatakan, penurunan ekspor Sumbar tidaklah signifikan. Karena juga terkena dampak dari kebijakan penutupan kran ekspor beberapa waktu lalu.
“Hal ini kemungkinan masih terjadi dampak ikutan dari kebijakan penutupan kran ekspor CPO oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Ia menambahkan, komoditi andalan ekspor Sumbar adalah CPO dan karet dengan negara tujuan utama India dan Pakistan. Namun jika dibandingkan antara periode september sampai dengan Oktober 2022 terjadi peningkatan signifikan 40,08 persen.

Lebih lanjut ia memperkirakan akan ada peningkatan ekspor. Mengingat sudah meningkatnya aktivitas perekonomian masyarakat dan juga aktivitas ekspor yang terbukti dari bangkitnya sistem perekonomian menjadi normal pasca Covid-19.

Dia menjelaskan, dengan adanya penghentian keran ekspor sebelumnya maka petani juga akan terkena dampaknya. Larangan ekspor CPO dan turunan akan menyebabkan oversupply. Sementara supply chain dikuasai oleh industri besar. Tentu yang akan menjadi korban adalah para petani dan industri kecil.

“Salah satu contohnya adalah Harga TBS dipastikan jatuh. Bahkan sangat mungkin petani tidak bisa menjual TBS-nya dan petani kehilangan penghasilan,” tandasnya.

Di sisi lain industri besar yang sudah kehilangan keuntungan dari larangan ekspor maka akan mencari keuntungan dengan menaikkan harga pada produk yang dijualnya. Seperti adanya fenomena sebelumnya. Yakni harga minyak yang mahal.

Lebih lanjut ia menyarankan, agar pemerintah lebih bijak dalam memutuskan kebijakan. “Semoga tidak terulang lagi, sebuah kebijakan seharusnya diambil dengan pertimbangan yang sangat matang,” pungkas akademisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Andalas tersebut.

Sementara itu ekonom dari Univeritas Taman Siswa Padang, Sepris Yonaldi menyebut, penurunan ekspor di Sumbar sebesar dua persen bukanlah suatu tolok ukur yang akan menggoyahkan ekspor di Sumbar. Hal itu justru menjadi cerminan bahwa perekonomian dan ekspor di Sumbar masih menggeliat pasca dihantam oleh pandemi Covid-19.

“Sebagaimana yang kita lihat bahwa pemerintah kembali membuka keran CPO. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi masa depan petani,” tukasnya. (cr1/cr5)

  Editor : Novitri Selvia
#kadin sumbar #Asben Hendri #bps sumbar #Disperindag Sumbar #Buchari Bachter #ekspor sumbar