Tak terkecuali saat libur Lebaran Idul Fitri 1444 H. Momen libur Lebaran tahun lalu, wisatawan yang berkunjung ke Sumbar tercatat sebanyak 1.237.832 orang. Angka tersebut didapat dari kunjungan wisatawan ke objek-objek berbayar dengan tiket.
Nah, untuk libur Lebaran tahun ini, kunjungan wisatawan ditarget bertambah sebesar 10 persen. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda kepada Padang Ekspres, baru-baru ini.
Untuk menarik wisatawan, sejatinya stakeholder tidak hanya mengandalkan keindahan alam yang ada. Selain itu, juga penyelenggaraan iven-iven kesenian dan kebudayaan.
Informasi terkait kalender iven ini bisa diakses di laman https://visitbeautifulwestsumatra.id/. Selain itu, juga info terkait destinasi wisata, hotel dan penginapan, kafe dan restoran, souvenir shop, juga tourism guide book.
“Seluruh iven yang kita selenggarakan selama libur Lebaran itu banyak. Semuanya lengkap di buku digital Dispar Sumbar (https://visitbeautifulwestsumatra.id/),” kata Luhur.
Seiring adanya sejumlah iven tersebut, ia mengimbau masyarakat Sumbar menjaga dan menyambut perantau dan pengunjung wisatawan dari berbagai daerah. Tunjukkan keramah-tamahan satu sama lain, menjaga kebersihan. Sehingga, perantau dan wisatawan betah berada di kampung halaman.
“Dan juga bisa menikmati pariwisata di Sumbar, sehingga ekonomi masyarakat pun bergerak. Harapan kita tentu seperti itu ya. Bagaimana 3A yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas kita di Sumbar tercapai dengan baik. Karena, selama ini yang kurang memang dari sisi kebersihan seperti toilet-toilet di tempat wisata yang tidak terjaga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata kabupaten/kota untuk menyosialisasikan serta memberikan arahan kepada seluruh masyarakat. Terutama, pelaku UMKM untuk memberikan layanan yang ramah kepada pengunjung wisata.
Benahi Sarana dan Prasarana
Menyambut momen libur Lebaran ini, sejumlah objek wisata pun dibenahi stakeholder terkait. Seperti di Kabupaten Pesisir Selatan yang dilakukan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga setempat, pemerintah nagari, serta masyarakat pelaku wisata. Pembenahan dan perbaikan dilakukan terhadap sarana dan prasarana pendukung.
Salah satu dibenahi adalah kawasan wisata Pulau Setan di kawasan Wisata Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan. Pantauan Padang Ekspres Rabu (5/4) lalu, kawasan yang dikelola Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Bersama Mandeh Tarusan Jaya (MTJ) itu, telah melakukan perbaikan berbagai sarana dan prasarana penunjang.
“Diprediksi tingkat kunjungan akan meningkat pada Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah tahun ini,” katan Ketua BUMNag Bersama MTJ Suryadi Chan.
Ada beberapa sarana dan prasarana yang dilakukan perbaikan dan peningkatannya. Diantaranya, tempat ibadah, MCK, gazebo, dermaga sandar kapal, pusat kuliner, dan lainnya.
Kepala Bidang Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Pessel Anton Mahendra menyebut, pengembangan Pulau Setan sekarang memang telah dilakukan oleh BUMNag Bersama MTJ. Melalui BUMNag Bersama MTJ itu, pengelolaannya dilakukan secara professional. Sebab penataan kawasan bisa dilakukan secara maksimal sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
“Kita berharap melalui pengembangan sarana dan prasarana, serta penambahan berbagai atraksi wisata di kawasan itu akan membuat wisatawan semakin meningkat dan semakin nyaman,” ujarnya.
Di kawasan ini biasanya pengunjung melakukan berbagai atraksi wisata. Seperti makan siang, berenang, shalat, hiking hingga atraksi wisata air seperti banana boat, donat boat, dan lainnya.
Selain itu Pemkab Pessel melalui Dinas Perhubungan setempat juga berupaya memberikan jaminan keselamtan dan kenyamanan kepada penumpang kapal yang akan berkunjung ke Mandeh dan Pantai Carocok Painan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Pessel Syafrijoni.
Dia bersama tim gabungan pengamanan arus mudik Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah tahun 2023, telah turun ke lapangan sejak Senin (3/4), melakukan pemeriksaan terhadap kelayakan kapal penumpang wisata di daerah itu.
Tim tersebut bertugas memastikan operator transportasi wisata. Terutama kapal wisata Carocok Painan dan Kawasan wisata Mandeh Kecamatan Koto XI Tarusan, dalam memberikan pelayanan sesuai prosedur dan mengutamakan keselamatan wisatawan.
Terkait kondisi jalan, baik nasional, provinsi, dan kabupaten, sebagai akses untuk kawasan wisata, dalam kondisi baik. “Sehingga tidak ada keraguan akan terjadi kemacetan akibat kondisi jalan buruk. Kecuali kalau ada faktor alam dan diluar dugaan lainnya,” ucap Syafrijoni.
Sebarkan Barcode Peta Digital
Kenyamanan juga jadi prioritas Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menyambut para wisatawan. Sebagai salah satu daerah favorit wisata di Sumbar, pemerintah daerah setempat sadar, sejumlah objek wisata yang mereka miliki akan dikunjungi banyak orang.
Salah satu upaya yang akan dilakukan agar para pengunjung nyaman adalah memecah penumpukan pengunjung pada satu objek wisata saja.
“Kami merancang sistem agar nanti pengunjung tidak hanya menumpuk di salah satu objek wisata. Kita merangkul pelaku usaha seperti perhotelan, UMKM para tokoh pariwisata termasuk juga Lurah agar menyosialisasikan bahwa ada banyak objek wisata di Bukittinggi,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Bukittinggi Rofie Hendria, Kamis (6/4) lalu.
Dalam hal ini Dinas Pariwisata Bukittinggi juga menyiapkan peta digital. “Kita juga selalu menyebarkan barcode untuk peta digital lokasi-lokasi wisata di Bukittinggi. Tentunya agar bisa menjadi penunjuk jalan bagi para pengunjung agar bisa menuju lokasi wisata dengan cepat dan tidak menumpuk di salah satu objek wisata nantinya,” ujarnya.
Selain Dinas Pariwisata, Satpol PP juga akan menurunkan anggotanya untuk menciptakan kondisi yang nyaman selama libur Lebaran. Kasat Satpol PP Bukittinggi Efriadi mengatakan, akan menurunkan 200 personel. Seluruh personel tersebut terintegrasi dengan berbagai pihak.
Sementara itu untuk mengatasi persoalan macet, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bukitinggi Joni Feri AP menyatakan, pertama pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak di dalam Kota Bukittinggi dan juga pihak provinsi. Secara internal, jelasnya, Dishub Bukittinggi akan menurunkan 85 personel untuk mengawal 14 persimpangan di Kota Bukittinggi.
“Kita juga akan membuat posko-posko pengaman lalu lintas. Selain itu kita juga akan turun pada posko taktis, posko terpadu dari pemko Bukittinggi,” tuturnya.
Selain itu juga ada pengaturan titik parkir. Sejauh ini di Kota Bukittinggi ada 31 titik parkir resmi. “Nanti kita akan membuat surat penunjukan lokasi parkir sementara yang akan dikelola oleh kearifan lokal masing-masing. Nanti agar tidak ada pungli kita akan pasangkan baliho informasi, terkait informasi harga parkir yang sesuai perda,” ucapnya.
Terkait rekayasa lalu lintas, terangnya, jalurnya tetap seperti biasa. Hanya sistemnya, buka-tutup. Dengan begitu kemacetan diharapkan tidak stagnan. Tetap bergerak. “Selain itu jalan perintis sudah banyak untuk alternatif,” tukasnya.
Hospitality Harus jadi Poin Utama
Pengamat yang juga pegiat pariwisata Sumbar Muhammad Zuhrizul mengingatkan, kemungkinan persoalan-persoalan yang muncul pada momen libur Lebaran kali ini, sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Seperti kemacetan, penunjukkan jalan alternatif, kebersihan, keamanan, harga yang berlebihan hingga pungli di jalan dan parkir. Hal ini harus menjadi fokus pemerintah dan pengelola wisata, demi memuaskan para pemudik serta wisatawan.
Selain itu, ada dua hal lain yang menjadi catatannya mengenai pariwisat Sumbar hari ini. Pertama, dari sisi positifnya, tahun ini banyak tumbuh destinasi-destinasi wisata baru. Ada juga wisata kuliner sebagai alternatif yang dikembangkan swasta atau pengelola desa wisata serta pokdarwis.
Objek-objek wisata potensial berkembang di Sumbar salah satunya desa wisata. Ia mengatakan saat ini ada 324 desa wisata di sumbar yang di kelola oleh Pokdarwis. Informasi terkait desa wisata tersebut dapat diakses melalui jadesta.com.
”Disamping itu banyak bermunculan daya tarik wisata kuliner dengan alternatif dan kemasan makanan kampung, kuliner tepi pantai yang makin menjamur dan lainnya,” ungkapnya.
“Namun dari segi negatifnya, kita masih lemah di hospitality. Sedangkan para perantau terbiasa menikmati wisata dengan standart hospitality tinggi di daerah lain. Ini harus jadi fokus Sumbar terutama masaalah kebersihan dan higienisitas objek-objek wisata dan harga kuliner,” ucapnya.
Pengamat pariwsata lainnya Sari Lengogeni menekankan, baik pemerintah ataupun pengelola wisata harus menyiapkan lokasi wisatanya sebaik mungkin demi menghindari komplain dari masyarakat. “Terkait sampah, kebersihan, pelayanan harus menjadi point utama pemaksimalan daerah wisata yang ada di Sumbar,” katanya.
Ia sendiri mencatatan positif, pariwisata di Sumbar kini cukup variatif. Adalah banyak atraksi, akomodasi, dalam iven semakin banyak. Tentu saja dengan banyaknya variasi untuk dikunjungi tersebut ia meminta pengelolaan harus lebih baik demi menjaga kenyamanan para pengunjung.
“Persoalan sampah harus menjadi konsentrasi bersama. Jangan sampai ada sampah-sampah berserakan di daerah dan lokasi wisata yang ada di Sumbar. Jika perlu beri sanksi kepada pelangar kebersihan,” tuturnya. (cr4/yon/cr9/cr1) Editor : Novitri Selvia