Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

AS Blokade Pelabuhan, Minyak Tembus USD 100 Per Barel

jpg • Selasa, 14 April 2026 | 11:59 WIB
Sebuah kapal melintasi Selat Hormuz kemarin (13/4) atau sehari setelah negosiasi antara Iran dan AS berakhir buntu. Arus pelayaran di Selat Hormuz terhenti seketika setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap Iran, memicu kapal-kapal berbalik arah di jalur strategis tersebut. (ANADOLU AJANSI)
Sebuah kapal melintasi Selat Hormuz kemarin (13/4) atau sehari setelah negosiasi antara Iran dan AS berakhir buntu. Arus pelayaran di Selat Hormuz terhenti seketika setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap Iran, memicu kapal-kapal berbalik arah di jalur strategis tersebut. (ANADOLU AJANSI)

PADEK.JAWAPOS.COM - Tepat pukul 21.00 WIB (14.00 GMT) tadi malam (13/4), Amerika Serikat (AS) memulai blokade seluruh pelabuhan Iran. Blokade itu berlaku untuk semua kapal yang akan memasuki atau meninggalkan pelabuhan di negeri yang dulu bernama Persia itu.

Langkah tersebut diambil AS setelah perundingan dengan Iran di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung 21 jam pada Sabtu (11/4) tak menghasilkan kesepakatan. 
Namun, mengutip AFP, belum ada detail pelaksanaan blokade itu oleh Angkatan Laut AS.

CENTCOM (Pusat Informasi Militer AS) juga menyatakan, kapal yang tidak terkait dengan Iran tetap diperbolehkan melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu berbeda dengan pernyataan sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menutup seluruh pelayaran Selat Hormuz dan mencegat kapal di perairan internasional.

Blokade itu memperparah situasi di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Sejak AS–Israel menyerang Iran pada 28 Februari, lalu lintas di kawasan itu telah menurun drastis.

Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Terganjal Isu Nuklir dan Selat Hormuz

Langkah AS disebut dipicu kegagalan perundingan damai di Islamabad. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Washington DC atas kebuntuan tersebut. “Ketika hanya beberapa inci lagi dari tercapainya nota kesepahaman Islamabad, kami menghadapi perubahan target dan blokade,” katanya, seperti dilansir Tasnim News Agency.

JD Vance sebagai komandan negosiator AS juga tak mempunyai wewenang seperti yang dimiliki Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf yang mengomandani delegasi negaranya. Vance diketahui harus menelepon Trump sampai 12 kali sepanjang negosiasi, termasuk sekali menerima telepon dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dituding Araghchi sebagai penyebab perubahan arah negosiasi AS.

Iran merespons keras blokade AS tersebut. Mereka menganggap langkah AS tersebut sebagai bentuk pembajakan.

Garda Revolusi memperingatkan bahwa kehadiran kapal militer AS di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan bakal dibalas secara tegas. Selain itu, jika ada kapal Iran di Teluk Persia atau Laut Arab yang diganggu, semua pelabuhan di kawasan Teluk Persia bakal mereka serang.

Dampak kebijakan tersebut langsung terasa di pasar global. Middle East Eye menyebut, harga minyak melonjak menembus USD 100 per barel, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat terhenti setelah pengumuman blokade.

Di kawasan Asia, tekanan mulai terlihat. Pasar saham dibuka melemah, sementara negara-negara pengimpor energi menghadapi ancaman gangguan pasokan.
Data pengiriman menunjukkan distribusi gas ke Tiongkok turun sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu, menandakan meningkatnya tekanan pada rantai pasok energi regional. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran krisis energi yang lebih luas di Asia jika ketegangan terus berlanjut. (lyn/ttg/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#minyak dunia #perang as israel iran