Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perjalanan Fajri dari Ruang Kuliah, Labor, Jalanan ke Xatus: Meracik Mimpi dengan Ketekunan dan Kerja Keras

Irfan R Rusli • Kamis, 16 April 2026 | 11:18 WIB
Fajri (kiri), mahasiswa Farmasi Unand bersama supplier bahan baku parfum saat membahas kerja sama bisnis, Rabu (15/4) . (IRFAN RUSLI/PADEK)
Fajri (kiri), mahasiswa Farmasi Unand bersama supplier bahan baku parfum saat membahas kerja sama bisnis, Rabu (15/4) . (IRFAN RUSLI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Dari laboratorium kampus hingga jalanan sebagai driver ojek online, kisahnya kini bermuara pada kelahiran brand parfum milik sendiri. Xatus.

DI antara hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa, tak banyak yang mampu menyeimbangkan antara tuntutan akademik, riset ilmiah, dan perjuangan ekonomi. Namun, Fajri, mahasiswa Farmasi Universitas Andalas (Unand), justru menjadikan semua itu sebagai bahan bakar untuk meracik mimpinya.

Perjalanannya dimulai dunia riset. Saat mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang riset eksakta. Tahapan demi tahapan ia lalui—mulai dari seleksi proposal, seleksi tingkat kampus, hingga akhirnya berhasil menembus seleksi nasional. Di titik itulah, ide-ide besar mulai tumbuh.

“Awalnya saya tidak pernah berpikir akan membuat usaha parfum. Semua berangkat dari proses riset yang saya jalani.

Dari situ saya mulai terbiasa bereksperimen,” ungkap mahasiswa angkata 2021 itu kepada Padang Ekspres, Rabu (15/4).

Pada ajang PKM tingkat nasional yang diselenggarakan di Universitas Padjadjaran (Unpad), Fajri bersama timnya berhasil mencatatkan prestasi membanggakan. Dari sekitar 2.800 tim se-Indonesia, hanya sekitar 600 tim yang lolos ke tahap nasional. Tidak berhenti di sana, tim Fajri bahkan berhasil melaju hingga menjadi finalis dalam kategori riset.

Penelitian yang mereka angkat pun bukan hal sederhana. Fajri dan kawan-kawan meneliti potensi bunga cengkeh sebagai alternatif pengobatan kanker serviks. Proses riset tersebut menuntut ketelitian tinggi, eksperimen berulang, serta pemahaman mendalam terhadap senyawa kimia.

Dari penelitian itu, ia belajar bahwa setiap bahan punya potensi. Untuk mengembangkan, tergantung pada pengolahan yang dilakukan. “Di situlah pola pikir saya terbentuk,” katanya.

Kebiasaan bereksperimen tersebut menjadi titik balik dalam hidup lelaki kelahiran 20 Agustus 2003 ini. Di tengah aktivitas laboratorium dan tekanan akademik, ia mulai mencoba meracik parfum secara mandiri. Awalnya hanya sebatas uji coba, memanfaatkan pengetahuan farmasi yang ia miliki.

Namun, dari percobaan sederhana, muncul keyakinan baru. Kenapa tidak dikembangkan menjadi produk? “Saya sudah punya dasar ilmunya, tinggal bagaimana saya serius menekuninya,” pikir alumni SMAN 3 Painan itu.

Keputusan ini menjadi awal dari perjalanan panjang membangun Xatus yang sudah berjalan sekitar dua tahun. Nama tersebut ia pilih sebagai simbol identitas dan harapan agar produknya memiliki karakter kuat di pasaran.

 

Namun, membangun usaha bukanlah perkara mudah. Di balik aroma wangi yang dihasilkan, tersimpan kisah perjuangan yang tidak harum. Keterbatasan modal menjadi tantangan utama. Sebagai mahasiswa, Fajri harus memutar otak untuk bisa mengembangkan usahanya tanpa mengorbankan pendidikan. Ia pun mengambil langkah berani. Mencari investor.

“Saya sadar tidak bisa berjalan sendiri. Saya mulai belajar menawarkan ide, meyakinkan orang untuk percaya dengan konsep yang saya bangun,” tuturnya.
Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Fajri juga bekerja sebagai driver ojek online dan pengantar makanan. Waktu yang dimilikinya terbagi antara kuliah, riset, bekerja, dan mengembangkan bisnis.

“Capek? Itu pasti, Tapi saya anggap ini bagian dari proses. Saya tidak ingin menyerah hanya karena keadaan,” tekan dia.

Perlahan namun pasti, usahanya mulai menunjukkan hasil. Xatus tidak hanya sekadar produk, tetapi juga telah memiliki legalitas yang jelas. Parfum racikan Fajri kini telah dipatenkan dan terdaftar di BPOM, sebuah pencapaian yang tidak semua pelaku usaha muda mampu raih.

Baginya, pencapaian tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar. “Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa juga bisa berkarya dan mandiri secara ekonomi. Tidak harus menunggu lulus untuk memulai,” ujarnya.

Kisah Fajri menjadi potret nyata bagaimana dunia akademik dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan. Ia tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya ke dalam kehidupan nyata.

Lebih dari sekadar bisnis, Xatus adalah representasi dari ketekunan, keberanian, dan mimpi yang diracik dengan kerja keras. Dari bunga cengkeh di laboratorium hingga aroma parfum yang kini siap bersaing di pasaran, Fajri telah membuktikan bahwa setiap proses memiliki makna. Ia pun tak takut gagal.

“Bagi saya, kegagalan itu bagian dari eksperimen juga. Kalau gagal, berarti kita belajar. Sama seperti di laboratorium,” tukasnya. (Irfan Rusli)

Editor : Adriyanto Syafril
#kopi