Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jelang Hari Puisi, Penyair Iyut Fitra ”Berdamai” dengan Sirosis: Motor Penggerak Sastra yang tak Boleh Dilupakan

Irfan R Rusli • Selasa, 28 April 2026 | 08:31 WIB
Iyut Fitra telah wafat di RSUP M Djamil Padang pukul 15.26 WIB, Senin (27/4). (DOK IYUT FITRA)
Iyut Fitra telah wafat di RSUP M Djamil Padang pukul 15.26 WIB, Senin (27/4). (DOK IYUT FITRA)

PADEK.JAWAPOS.COM - Kurang 24 jam dari Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap 28 April, kabar duka menyelimuti dunia sastra Indonesia. Iyut Fitra, penyair terkemuka asal Payakumbuh mengembuskan napas terakhirnya di RSUP M Djamil Padang, pukul 15.26 WIB kemarin.

Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatan Kuyut –sapaan akrabnya— memang tengah menurun.

Ia kerap keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena menderita sirosis. Baik di Kota Payakumbuh maupun Padang. Jelang meninggal ia dirawat intensif di RSUP M Djamil Padang sekitar tiga pekan.

Della Nasution, keponakan Kuyut, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat luas. “Mohon maaf apabila selama hidupnya terdapat kesalahan atau kata-kata yang kurang berkenan. Semoga segala kekhilafan beliau dapat dimaafkan,” ujarnya kepada Padang Ekspres kemarin.

“Berpulangnya” Kuyut menjadi kehilangan besar. Tidak hanya bagi keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga sastra Indonesia yang telah ia warnai dengan dedikasi dan ketekunan.

Iyut lahir dengan nama Zulfitra pada 16 Februari 1968. Sebagai penyair ia mempublikasikan karya di berbagai media massa nasional maupun lokal. Puisi-puisinya pun telah dibukukan sejak tahun 2006. Di mulai dari Musim Retak. Kemudian, Dongeng-dongeng Tua (2009), Beri Aku Malam (2012), Baromban (2016), Lelaki dan Tangka Sapu (2017), Mencari Jalan Mendaki (2018), Sinama (2020), Kepadamu Kami Bicara (2022), Dengung Tanah Goyah (2024), dan Maek (2025). Selain itu ada juga satu kumpulan cerpen Orang-orang Berpayung Hitam yang tahun 2017 diterbitkan penerbit Basabasi.

Sepanjang perjalanannya menulis, dia juga mendapat banyak penghargaan. Di antarannya, Pemenang Lomba Cipta Puisi Kemenbudpar RI (2006), penghargaan dari Balai Bahasa Sumatera Barat (2009), Anugerah Payakumbuh Award (2022), penghargaan Buku Puisi Terbaik dari Perpusnas RI (2019), dan Penghargaan Sastra Kemendikbud RI (2020).

Bagi kalangan akademisi sastra, Iyut Fitra bukan sekadar penyair produktif. Tetapi, juga sosok yang terus berkembang dalam perjalanan kreatifnya.

Ivan Adila menyebut, Iyut sebagai penyair liris yang memiliki dinamika kuat dalam karyanya. “Iyut adalah penyair yang telah menulis lebih dari 30 tahun. Puisi-puisinya tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Ia selalu bergerak, berubah, mengikuti perkembangan zaman dan pengalaman hidupnya,” kata akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas itu, kemarin.

Menurut Ivan, kekuatan puisi-puisi Iyut terletak pada kemampuannya menangkap realitas sosial. Ia tidak menulis dari ruang hampa, melainkan dari kehidupan yang ia saksikan dan rasakan secara langsung. 

 

Sahabat sekaligus rekan seperjuangannya S Metron M mengenang Iyut sebagai sosok yang tak pernah lelah menghidupkan sastra. Baginya, Iyut bukan hanya penyair, tetapi juga motor penggerak yang menjaga denyut kehidupan sastra di Payakumbuh dan Sumatera Barat.

“Iyut itu orang yang sangat konsisten. Ia bukan hanya menulis, tapi benar-benar menjadi motor, pendorong, dan roda penggerak dunia sastra. Itu yang tidak boleh kita lupakan dari dirinya,” ujar teaterawan dari Ranah PAC ini.

Mantan wartawan Padang Ekspres tersebut menambahkan, hubungan Iyut dengan rekan-rekan sejawat tidak hanya sebatas kolaborasi karya, tetapi juga persahabatan yang hangat dan penuh dukungan. Bahkan menjadikan rumahnya sebagai ruang bersama bagi para sastrawan.

“Ia menyediakan tempat, membuka ruang diskusi, dan selalu mendorong kami untuk terus berkarya. Ia tidak ingin ada yang berhenti menulis. Semangat itu yang terus ia jaga,” katanya.

Menurut Metron, semangat juang Iyut Fitra adalah sesuatu yang langka. Sejak era 1990-an hingga akhir hayatnya pada 2026, ia tetap aktif menghidupkan kegiatan sastra. Mulai dari bedah buku, diskusi, hingga berbagai forum literasi, semuanya dijalani dengan kesungguhan yang sama.

“Bahkan di masa tuanya, ia masih meluangkan waktu untuk mendidik generasi muda. Ia membuat kegiatan untuk anak-anak, bahkan usia taman kanak-kanak, agar mereka dekat dengan literasi sejak dini. Itu luar biasa,” ungkapnya.

Warisan Iyut Fitra, dengan demikian, bukan hanya terletak pada karya yang ia tinggalkan, tetapi juga pada ekosistem yang ia bangun. Ia menjadikan sastra sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar wacana elitis yang jauh dari masyarakat.

Dari RSUP M Djamil Padang kemarin, almarhum dibawa ke rumah keluarga istrinya di Sungaiberingin, Kota Payakumbuh. Rencananya, ia akan kebumikan di pemakaman keluarganya di belakang Surau Angku Mudo Hamzah, Jalan Kalimantan, Padangtongah, Koto Nan Ompek, Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh. Penyelenggaraan jenazah akan dilakukan sekitar pukul 07.00 WIB. (cr7)

Editor : Adriyanto Syafril
#penyair Sumbar wafat #Hari Puisi Nasional 2026 #sastra #Iyut Fitra