Laporan : Two Efly & Azib Fattah Mandala Putra
PADEK.JAWAPOS.COM - Setelah vakum lebih dari enam bulan, ekspedisi Seven Summit West Sumatera kembali kami lanjutkan. Etape keempat. Petualangan ayah dan anak kali ini kami agendakan untuk menapakkan kaki ke puncak Gunung Kerinci (3.805 mdpl).
Dengan ketinggian mencapai 3.805 mdpl, Gunung Kerinci kerap disebut sebagai “atap langit” Sumatera.
Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak tertingginya bernama Indrapura.
Tim Seven Summit yang semula berjumlah empat orang kini menjadi sepuluh orang setelah dua tim bergabung. Kesepuluh personel tersebut terdiri dari Two Efly, Azib Fattah Mandala Putra, Dani Fauzi, Habil, Hidayah, Suci Ramadani, Habil Nafian, Abrar, Nur Azira, dan Dima Sasikia Fitri.
Di titik awal pendakian Kersik Tuo, telah menunggu sahabat saya, Lihun Alfonso dan Bang Roy (guide Gunung Kerinci), yang akan memimpin perjalanan. Lihun Alfonso merupakan guide senior, sementara Bang Roy berperan sebagai sweeper. Keduanya juga merupakan anggota Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI).
Dari Padang
Menggunakan kendaraan pribadi, kami bergerak dari Padang pada Selasa (21/4) menuju Indarung, kemudian menanjak ke Sitinjaulauik. Perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke kanan di pertigaan Lubuk Silasih menuju kawasan Danau Kembar—Danau Di Atas dan Danau Di Bawah—di Alahanpanjang, Kabupaten Solok.
Sekitar satu setengah jam dari Lubuk Silasih, kami tiba di Masjid Ummi Alahan Panjang. Masjid megah yang berdiri di tepi Danau Di Atas ini dibangun oleh mantan Gubernur Sumatera Barat sekaligus Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, dan dihibahkan untuk masyarakat.
Perjalanan menuju Kersik Tuo diperkirakan masih memakan waktu sekitar enam jam lagi dengan laju santai.
Menembus Solok Selatan
Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Surian dan Pantai Cermin. Sayangnya jalan nasional di kawasan Air Dingin sangat tak layak. Berlobang, bergelombang dan dapat dikatakan bonyok. Kendaraan harus melintas dengan pelan dan lambat. Salah pilih tapakan, mobil bisa masuk lobang dan kandas. Kita yang berada di dalam mobilpun serasa naik rolercoster.
Cukup banyak titik-titik dan ruas jalan yang rusak. Akibatnya, laju kendaraan melambat dan memperlambat perjalanan. Apa boleh buat, itulah jalur jalan yang ada satu satunya dari solok menuju solok selatan. Serusak apapun terpaksa dilewati.
Sesampai di Kanagarian Surian kendaraan terus kami pacu menuju hingga memasuki gerbang selamat datang Kabupaten Solok Selatan. Dari titik ini kami kembali bergerak menuju Muarolabuah dan berlanjut ke pertigaan Padangaro. Di pertigaan Padang Aro, belok ke kanan dan menanjak menuju Kerinci.
Tak terasa, laju kendaraan membawa kami memasuki jalur tanjakan curam dan berliku yang dikenal dengan sebutan Letter W. Penamaan ini merujuk pada bentuk jalan yang menanjak dan berkelok menyerupai huruf W.
Meski penuh tikungan tajam, kondisi jalan yang relatif mulus membuat perjalanan tetap lancar.
Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh lanskap alam yang luar biasa. Hamparan tanaman dataran tinggi seperti palawija dan kayu manis (cassia vera) membentang dikiri dan kanai jalan.
Kersik Tuo
Selepas Magrib, kendaraan kami memasuki kawasan perkebunan teh milik BUMN (PTPN VI). Hamparan kebun teh ini menjadi penanda bahwa titik awal pendakian semakin dekat.
Menjelang Isya, kami tiba di sebuah pertigaan yang ditandai dengan monumen Tugu Macan. Di kalangan pendaki, tugu ini menjadi penanda menuju R10 ( pos registrasi Taman Nasional Kerinci Seblat).
Namun, malam itu kami tidak berhenti di Tugu Macan. Perjalanan dilanjutkan menuju kediaman Lihun Alfonso di Desa Mekar Jaya, yang merupakan pemekaran dari Desa Kersik Tuo. Jaraknya hanya sekitar lima menit dari Tugu Macan
Menutup Hari,Membuka Petualangan
Sesampai di rumah Lihun Alfonso kami mulai berdiskusi. Bahasan diskusi lebih membicarakan dan memutuskan time scedul pendakian. Secara detail kami menyepakati kapan mulai bergerak dari Base Camp menuju R-10 (registrasi pendakian) di pos Pendakian Gunung Kerinci. Kapan bergerak dan memasuki pintu rimba. Pukul berapa minimal kita harus masuk Pos 1 (bangku panjabg), pos 2 (batu lumut), pos 3 pondok Panorama dan Shelter 1.
Setelah berdiskusi akhirnya kami menyepakati bahwa pendakian dari Pintu Rimba akan dimulai pukul 10.00 WIB, Rabu (22/4). Artinya, kami harus bergerak dari base camp pukul 09.00 WIB.
Perjalanan panjang hampir 10 jam bukanlah akhir, melainkan awal dari petualangan sesungguhnya. “Capek juga ya, ini baru perjalanan awal. Besok pagi barulah perjalanan sebenarnya. Kita istirahat dulu. Semoga cuaca bersahabat dan kita bisa menikmati perjalanan menuju puncak Kerinci,” ujar Azib. (bersambung)
Editor : Adriyanto Syafril