Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

80 Persen Masyarakat Hadapi Tekanan Biaya Hidup

jpg • Senin, 15 Juni 2026 | 09:05 WIB
Ilustrasi AI.
Ilustrasi AI.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Kenaikan biaya hidup masih menjadi ancaman terbesar bagi kondisi keuangan rumah tangga Indonesia. Survei terbaru menunjukkan delapan dari sepuluh masyarakat ma­sih merasakan tekanan eko­nomi yang cukup berat. Akibatnya, banyak keluarga terpaksa mengesampingkan ren­cana keuangan jangka panjang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Temuan tersebut terung­kap dalam studi yang dilakukan Sun Life Indonesia bersama lembaga riset Genpop terhadap 1.000 responden berusia di atas 18 tahun. Ha­silnya 80 persen masyarakat masih menghadapi tekanan biaya hidup, sementara 30 persen responden menilai kenaikan harga kebutuhan menjadi hambatan terbesar dalam memperbaiki kondisi keuangan keluarga.

President Director Sun Life Indonesia Albertus Wi­royo mengatakan, tingginya biaya hidup kini bahkan dipandang lebih mengkhawatirkan di­bandingkan persoa­lan ketidakstabilan pendapatan yang selama ini menjadi tantangan utama rumah tangga. “Biaya hi­dup yang terus meningkat menjadi tantangan paling besar bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan keuangannya,” ujarnya kemarin (14/6).

Tekanan tersebut mengubah pola perencanaan ke­uangan masyarakat. Sebanyak 56 persen responden me­ngaku fokus utama mereka dalam 12 bulan ke depan adalah mengelola pengeluaran harian. Prioritas tersebut menggeser agenda menabung, berinvestasi, maupun menyiapkan dana untuk kebutuhan jangka panjang.

Ketahanan finansial ma­syarakat juga dinilai masih rentan. Hanya 14 persen responden yang merasa benar-benar aman secara finansial. Sementara itu, hanya 45 persen yang yakin mampu bertahan lebih dari enam bulan apabila kehilangan sumber penghasilan utama.

Untuk menutup tekanan akibat kenaikan biaya hidup, sebagian masyarakat terpaksa mengambil langkah darurat. Sebanyak 23 persen responden mengaku menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, 26 persen me­mang­kas pengeluaran penting, dan 5 persen bahkan menghentikan sementara kontribusi dana pensiun.

Albertus menilai literasi keuangan menjadi faktor pem­­beda yang menentukan kemampuan masyarakat menghadapi tekanan eko­nomi. Berdasarkan hasil studi tersebut, individu dengan tingkat literasi keuangan yang baik memiliki ketahanan finansial hingga tiga kali lebih kuat dibandingkan me­reka yang kurang memahami pengelolaan keuangan.

“Mereka memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang jauh lebih tinggi dan lebih siap menghadapi berbagai tekanan ekonomi,” pung­kasnya. (bil/dio/jpg)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#biaya hidup naik #harga bahan pokok naik #keuangan berkelanjutan